Aku dan separuh agamaku

Aku dan separuh agamaku

Minggu, 21 Mei 2017

Saling Melengkapi (Mrs. Trouble Maker Vs Mr. Sakin ol :D)

Holla, akhirnya kembali lagi bersama Mrs. Kursun alias Mrs Trouble Makerdan kisahnya bersama Mr. Sakin Ol2 :D

Setelah kemarin suami yang isi blog, sekarang saatnya si istri yang meramaikan blog. Sebenarnya isi blog kali ini atas permintaan suami, sebagai wujud permintaan maaf dan penerimaan bahwa “Woman IS NOT always right”3. Hehehe, kok bisa? Karena saya orangnya sedikit gamau kalah (dalam hal benar dan salah :p, disebabkan kampanye di media sosial juga yang bilang “woman always right”4 :p).

Dalam rumah tangga kami, bisa diakui bahwa suami saya adalah orang yang paling bisa mengalah dalam segala hal. Paling bisa “yaudahlah” dalam berbagai kasus pertengkaran rumah tangga (heheheh :p). saya yang agak keras kepala terkadang “gengsi” mengakui kalau saya salah. Suami yang orangnya gamau berlarut-larut jadi yang lebih sering mencairkan suasana dan mengaku salah (walaupun sebenarnya gak selamanya semua salah dia hihihi).  Sebenarnya suami saya orangnya juga agak keras kepala (bagaimanapun gen karadeniz dari suku Laz6-nya suami tak akan pernah bisa menipu :p), tapi tak sekeras kepala istrinya hihihi (maklum, anak pertama biasanya lebih keras kepala *alesan*).

Jadi saya mau ngomongin apa sih sebenarnya? Hehehe.. penasaran ya? Yuks simak coretan alay-alay luar biasa dari saya mengenai saling melengkapi dalam rumah tangga.
*** 

Didalam keluarga kecil kami, saya dicap sebagai “trouble maker” oleh suami. Julukan ini datang dari kebiasaan saya yang sering menciptakan masalah disaat-saat genting ketika dalam perjalanan. Saya lupa tepatnya masalah apa yang saya ciptakan pertama kalinya :D, mungkin bisa dibilang tragedi perjalanan menjari jejak seytan koprusu di Sille, Konya menjadi masalah pertama yang saya buat.

Alkisah, waktu itu kami sedang dalam perjalanan di kota para Sufi, Konya. Saya selalu ingin melihat banyak tempat di kota yang kami datangi. Dan waktu itu saya pengen banget liat seytan koprusu  gara-gara postingan salah satu mahasiswa Konya di Instagram. Dalam hati saya bilang, pokoknya saya harus foto kece disana! Hihihihi. Yang dikorbankan tentu saja suami :D

Kami coba cari tempat itu di google maps, tetapi ternyata tempat tersebut engga kedetek sama google maps. Akhirnya kami tanya sama petugas di sekitar gereja Aya Eleni. Mereka tahu, dan menunjukan jalan pada kami. Kami faham, kata mas-mas tersebut, tempatnya keliatan ada di sebelah kiri. Pokoknya deket. Kami pede cari tempat tersebut, padahal suami lagi capek-capeknya. Tapi demi sang istri yang penasan, akhirnya nurut juga. Kami terus jalan sambil liat kanan kiri. Tapi gak nemu si seytan koprusu itu. Akhirnya kami terus mengemudi keatas, sampe keluar dari kawasan Sille. Kayaknya nyasar deh, udah curiga. Akhirnya inisiatif tanya sama anak-anak di pinggir jalan yang kami temui tidak sengaja. Dan ternyata si dia gak tau kalo ada seytan koprusu di kawasan tersebut. Akhirnya kami putar arah. Hari udah semakin sore, suami bilang kayaknya kita gabisa nemu deh. Akhirnya kami sampe di deket kawasan gereja Aya Eleni lagi, dan saya lihat si seytan koprusu tersebut!

Kami mencoba jalan kesana, tetapi salah jalan, ternyata untuk sampai kesana, kami harus turun bukit. Saya lihat ada jalan lain, dan sepertinya mobil bisa masuk.kami balik lagi dan ambil mobil kami, kemudian kesana dengan mobil.

Jalanan yang kami pakai sangat mepet sekali, disebelah kiri terdapat gundukan tanah keras yang menjulang tinggi dan disebelah kanan berbatasan dengan rumah penduduk. Kita yang gak nemu si jembatan setan tersebut, akhirnya mutusin balik arah. Pas coba belok dan mundur, ada suara BLETRAK! Ternyata bemper belakang mobil nyium gundukan tanah dan penyok :(. Saya cuma masang muka “awkward8, bingung harus ngapain, tapi suami masih tenang dan santai. Setelah kejadian itu akhirnya kita nemu seytan koprusu-nya sih, gak penasaran lagi :D. Tapi plus hadian bemper mobil penyok dulu karena saya :D.

Selanjutnya ketika kami hampir kesasar ke kota Samsun karena  permintaan saya untuk jalan-jalan malam ke suami. Bensin mepet, kebelet pipis, udah lewat tengah malem dan bersalju pula. Lagi-lagi saya masang muka “awkward” dan suami dengan muka “yaudahlah mau gimana” :D.

Pengalaman lain pas kami lagi liburan ke Singapura. Kami hampir ketinggalan bus ke Malaysia karena saya yang menghilang dari tempat janjian karena sibuk foto-foto sekitar Arab Street. Suami pasang muka “lo lagi, lo lagi yang bikin masalah” tapi dibarengi dengan muka “yaudahlah”  :D, dan saya seperti biasa memasang wajah “awkward”. Kami lari ngos-ngosan ngejar waktu, sampai di bus suami bilang “You try to kill me, this time you kill me. Yes you kill me this time”9 dengan wajah super duper merananya karena kelelahan.

Pengalaman lain datang pas kita liburan sambil nginep disalah satu hotel di Kota Pandeglang. Kain sprei di kamar kami kena lunturan kain songket saya yang basah :(. Panik banget karena kalau ketauan manajemen hotel bisa didenda satu juta (duit dari mana cobak T_T). Akhirnya suami saya inisiatif nyuci pake pemutih yang kita beli dari indomar*t. berkat bantuan suami, noda lunturan tersebut hilang (untung spreinya warna putih T_T).

Ya begitulah beberapa kisah si Mrs. Trouble Maker dengan Mr. Sakin ol. Saya yang selalu membuat beberapa masalah ketika dalam perjalanan berkolaborasi dengan suami yang tenang (walaupun kadang-kadang suka kesel juga si masnya hehehe). Tapi itulah rumah tangga, kami memang dua manusia yang tercipta dengan jutaan perbedaan, persamaan kami adalah suka jalan-jalan, nulis, baca buku dan makan :D. Terlepas dari itu kami adalah dua pribadi yang penuh dengan perbedaan.
Memang menikah dengan orang yang banyak persamaan dengan kita adalah hal yang mengasikan. Tetapi menikah dengan orang yang memiliki perbedaan dengan kita jauh lebih mengasyikan. Kita berdua dituntut menemukan solusi dari perbedaan yang kita miliki, saling melengkapi. Bukan saling berdebat tak karuan.

Sebagai contoh saling melengkapinya adalah seperti dari kisah-kisah trouble maker yang saya ceritakan sebelumnya. Coba kalau kita berdua adalah orang yang gampang marah, mungkin ketika saya melakukan kesalahan, suami hanya bisa memarahi saya tak karuan tanpa mau mencari solusi atau menenangkan saya. Biasanya setelah melewati masa sulit, kami berdua tertawa hehehe. Ternyata betapa konyolnya hal-hal yang saya lakukan hehehe.

Saya adalah orang yang paling tidak bisa menyusun acara. Contoh sederhananya adalah ketika melakukan pertemuan dengan teman, saya merasa selalu bingung akan melakukan apa. Saya tidak bisa mengatur pertemuan, pukul berapa bertemu,  lalu kira-kira kegiatan apa saja yang harusnya kita lakukan ketika bertemu. saya lebih spontan ketika melakukan sesuatu. Sedangkan suami saya adalah orang yang sistematis. Apa yang dilakukan (kalau bisa) harus dibuat jadwalnya supaya tidak keteteran dan jelas mau ngapain.

Maka dari itu, saya memercayakan suami saya untuk melakukan “penjadwalan” dari hal-hal yang akan kita lakukan. Contohnya ketika kami melakukan perjalanan, semua jadwal kegiatan saya serahkan pada suami. Dimulai dari kemana saja kita akan pergi, alokasi dana, “maps” dan tektek bengek lain. Ketika dia yang mengatur, saya merasa sangat aman hehehe :D. karena jika saya yang mengatur, masalah akan selalu muncul :D.

Saya merupakan orang yang optimis dalam semua hal, sedangkan suami saya lebih pesimis. Saya selalu yakin bisa melakukan suatu hal dan selalu yakin jika suami saya bisa melakukannya juga. Suami saya lebih banyak menganggap saya tidak bisa dan dia juga tidak bisa. Apa lantas saya menghakimi suami saya dengan sifat pesimistiknya? Tentu tidak. Saya tetap menyuntikan optimisme dalam hal apapun pada suami, tanpa mengubahnya menjadi orang yang selalu optimis. Tetapi mengarahkan sikap pesimisnya kearah “hati-hati”. Jadi sifat pesimis suami saya sekaligus menjadi “penahan”nya ketika dia menjadi terlau optimis. Pun begitu yang dilakukan suami pada saya. Saya menjadi orang yang tidak terlalu optimis, kadarnya saya kurangi. Saya tambahkan dengan kadar “kemungkinan”, maka dari itu saya lebih hati-hati untuk menghindari sifat “jumawa” yang terkadang nebeng ke sikap optimis yang berlebihan.

Rumah tangga begitu seberwarna ini. Untuk kami yang usia pernikahannya seumur jagung saja sudah banyak warnanya :D, apalagi pasangan yang sudah menikah bertahun-tahun tentu lebih banyak lagi. Rumah tangga itu selalu asyik diceritakan :D.

Oke honey! In the last i want to tell sorry for yesterday, and this time you are right (but of course someday i can take this place again :p), because woman is always right10 B-) *kemudian dia bilang “sombong  banget zzz” sambil masang muka “kumaha maneh bae”11

Sampe bertemu di tulisan lainnya :D


You Complete me!
Dokumentasi pribadi



Catatan kaki

  1. Pembuat masalah
  2. Santai, rileks
  3. Perempuan tidak selalu benar
  4. Perempuan selalu benar
  5. Laut hitam
  6. Salah satu suku yang ada di Turki
  7. Jembatan setan
  8. Kikuk, aneh, canggung
  9. Kamu mencoba membunuh saya, ya kamu membunuh saya kali ini. kamu membunuh saya kali ini
  10. Oke sayang, di akhir saya ingin bilang maaf untuk kemarin, dan kali ini kamu benar (tetapi suatu hari nanti saya akan mengambil tempat itu lagi, karena perempuan selalu benar)
  11. Bagaimana kamu saja

How small is the world? by Mustafa Kursun


Every picture has a story. So what’s that of this above? I will tell you later on this blog…
I’m back again. I guess you will say “Enough man! We’re bored of hearing your struggle with your own mind for writing a piece of nonsense!”. Or maybe it’s just my bad suspicion. But that’s a big matter for me. To write or not to write; that’s the question! Finally I beat all the hitches, my old netbook which is full of lags, my own laziness to begin writing, my annoying hand phone that doesn’t let me move the pictures easily… By the way, we also decided to write a book that’s going to tell our story from my own and lovely wife’s perspectives. Just wait and see... Don’t forget to follow us until the time comes.
Actually I was thinking to title this blog as “Waiting!” as a novel of a great Chinese author impressed me a lot. Please let me tell some about that.



image

“Sweatheart, will you wait for me? I will come back to you soon. We are still, still one family, aren’t we? Don’t leave me..” said Lin Kong…
I heard tell of a new author, during a class of mine which is about Asian societies, but through literature. I had no idea who he was and what he had written. As it was my task for one of the classes on Chinese literature, I read only a short story of his. To be honest, I felt disgusted as he gives too many details. Though all those details are the life itself and all of us may witness such incidents, it was still (partly) disgusting to read. Sorry, I forgot to tell the name. It was a book that contains some short stories of a well-known Chinese author (who has moved to USA to make a clean break in his life and decided to use only English as his new adopted language to write), named as “Ocean of Words”. My and Ha Jin’s was a short-dated friendship and I’ve never heard of him again till I encountered his other works in a crazy book fair as its name also suggests: “Big Bad Wolf”. Yes, it was really like a Big Bad Wolf with hundreds of bookworms rambling inside him.



image

She offered me the book “En(She)Klopedia”. But of course I don’t need a book to understand her!
As I have a bookish wife, we visited this fair (whereby all the books were on sale with at least 50% discounts) two times, first of which was for my wife and the second absolutely for me. During that second visit, while I was bogging down inside the books in every moment and not many things appealed me among those huge book stands, my lovely wife exhumed me from that confusion and showed me a book, which has a only a pigtail on cover. She asked me “do you know this author?”. I said no, without even looking at it carefully (sorry my wife, sometimes I can be uninterested :) However, later I checked that again and realized that it was him, Ha Jin. Later on we found some more books of his and at the end of the tiring journey, being aware of the fact that we can only afford to buy one of them, we chose that “pigtail” which is tied with a red ribbon.
Few days later I opened its first page and you will not believe that I finished it in less than five days. I said you will not believe as I’m not a good reader at all! But its flowing story simply mesmerized me. (Well, I should remember that one of the reasons was my wife got cross at me and kept silent for almost two days! Thanks babe for letting me read the book in such a short while :) The setting was a military hospital (in many of his works Ha Jin tells military stories), the story was about a young doctor (at least young at the beginning), his prearranged marriage with a countrywoman and second love story, and of course his “waiting”. He feels he’s fallen in love for the first time in his life and decides to divorce his wife, who has been taking care of his old mother and father, and later on his own daughter, all the time he’s been away for work. He comes back to his town every summer, but cannot succeed in his action for the divorce. He waits, so his lover does. Until he finally muddles through all obstacles… 
Waiting… 
For about eighteen years… 
For the whole story, please find and buy that book. You will never regret!
Waiting… 
It sounds familiar to me. I know that feeling. Ok, I’ll not wade into my long distance story now, as I did that many times in my previous blog writings. Please have a look at them if not yet you have. Just a few words… We know what is “waiting”. We waited a couple of years for each other, for seeing alive, for touching “halal”. Then we waited to make things right. And we waited for our little prince or princess, though we are still waiting. We waited to move from our lovely home, just because of people’s blindness, fanaticism, bigotry… We are waiting to go back. We will wait for new adventures. Does “waiting” have an end? I think it doesn’t. We will still wait even after we completely move from this earthly earth.



image

Lunch at the Kuala Lumpur International Airport and my dear teh tarik!
Well… Not only are we waiting in this world. Many others also do. They wait for their dreams. They wait for their lovers. Mothers wait for their sons. Guns wait for a hunt. So does darkness, for a light… Yes, I’m finally getting back to the main point, my title, “how small is the world?”. Heroes of “waiting” find fellows everywhere in the world. Also we’ve done. We had a couple of familiars few years ago. Yes, they are Emel and Farhan, whom you see in the picture above. Last year, when we visited them for their first wedding held in Tosya town of Kastamonu just ahead of a doomsday hitting my country, Farhan’s father, Uncle Murtza insistently invited us for the next party in Malaysia. I still remember his words… “Come to Malaysia. Please, welcome to Malaysia!”. The moment, I couldn’t deem it likely as it would be too hard for us to buy tickets to Malaysia, find enough time in January and join their second wedding ceremony there. I just graciously answered him as “InshaAllah. If Allah gives this opportunity to us…” Yes! HE did. He gave us the chance to see these warm-hearted people again. Uncle Murtza, his lovely wife, my fellow Farhan and sister Emel, Farhan’s super brothers (one of them is a virtual pilot!) and other members of his family… I can’t find words for their hospitality, amidst all the “wedding hoo-hah”. They hired a room for us for one week, took us travel in Kuala Lumpur, even bought our tickets to Singapore and bid a farewell with really nice gifts…
I also shared this photo on Instagram and wrote a caption saying “Dünya küçük…”, which means “the world is small”. The world is really small. I know we will meet them again in the future. They are still waiting for each other. May Allah let them fulfill this longing for an eternal life.  And I also know we will meet for other beloveds of ours, in a good time and place…
That looks too short to tell everything about a good fellowship, but I can’t fit all inside this blog. I would like to tell more about them in the next pieces of my mind and fingers..



image

A nice conversation once again with the family of Medic Mesir :)
So, we were in a part of this small world. Just one day we set aside some time for our backpacker journey, leaving Farhan and Emel for the arrangements of their wedding, which was going to be held the following day. In the morning, we met some other nice people in a luxury (sorry, they took us there :) hotel, for a breakfast. They were Mr. Ahmad Rodzi and his wife Ummi Medic Mesir :) It’s not her name but she is well-known with this ekename. They manage a non-governmental organization that helps Malaysian students to study medicine in Egypt and countries nearby. I met them for the first time in my own country, to help them arrange applications of students, to universities in Ankara. We had that breakfast and left the hotel together with Mr. Rodzi. He took us to the nearest station of commuter line where we headed for our first destination, “Batu Caves”, which is a huge Hindu temple on a hill. Once we arrived, we encountered an endless staircase beside a gigantic sculpture painted in gold. We climbed till the peak under the rainfall, watched covetous monkeys and innocent chickens, took some selfies before leaving the place and asked a strange man to take our photo (whom I think cannot speak any languages available on earth!) from behind to show our hoodies combining the words of “Together-Since-20-14”.  We ordered a grab car, whose driver was a Hindu, and headed to a new place in the hope of finding an Uighur restaurant as we had been craving masterpieces of this unique, peerless cuisine. Unfortunately we couldn’t find it as Google Maps cheated us but also didn’t say no to some biryani and other Indian tastes (teh tarik too, of course). Well… I feel this story is getting too long. To avoid irking you, I will leave the other part of this story, for another blog.

“But how about the picture you put at the beginning. Won’t you tell what its story is?”. I think I will blow the gaff in the next blog. Hopefully soon… But just a clue for you: that picture clearly depicts “innocence” of my real “trouble-maker” wife :)
See you next time! Arrivederci! Or sampai jumpa! :D

Selasa, 20 Desember 2016

WHERE CAN WE FIND THE PEACE?

I think it may be my writing habit to begin with a nice picture that tells everything at first, of course for the ones who have the ability to see the meanings and truths behind pictures. So, where can we find the peace? On a silent beach accompanied with a breeze which is maybe the herald of a refreshing rain… Or at a lover’s elbow… What about the togetherness?



A feeling suddenly knocked the door of my mind, telling me that “Shame on you man! You’ve got lots of adventures and amazing (!) experiences but your wife writes your story earlier than you!”. That’s why I’m meeting with my (new) keyboard, to drop a few lines on memories.


I’ve just read the last product of my fingers, which I wrote more than one year ago. A line caught my attention there… I say referring to all journeys in my life: “The one we lived on this September was probably the most tragic journey of my life”. I can’t say I was wrong. That’s why I used the word “probably” which means there may be bitter ones in the future. The time has proved this idea behind my words. The life is being bitter and bitter day by day. Why do I use these words to begin an amazing experience and adventure? Let’s leave it for another occasion, as the time is not this time to clarify that.

I promised myself to write about the rest of my last year journey in Indonesia, which I enjoyed so much except for the problems we lived with the airline companies and immigration offices etc. However, I could not. Why? I don’t have an answer or excuse to give. At least to say a few words about the journey I experienced the year before the (for many people) cursed two thousand and sixteen, it was full of fun and excitement. The fun and excitement of enjoying the atmosphere in Bandung again (although only for a few hours), taking a long train trip first time in my life, visiting one of the oldest human-made constructions and the greatest temple of Java island (and maybe the world), learning unknown (at least by me until that time) public figures of Indonesia (like the Sultan of Yogyakarta), having a special wedding gift, which was a one-night stay in a hotel, from a new friend who has never met us but enjoys our long-distance story, soak up the beautiful beaches of West Java… It was a ten-day dreamlike story for me that ended up, again, with the busyness and responsibilities in my lovely home country, although not lovely enough for the year we’re about to leave behind. That’s another long story that can yield even to a novel… Writing a novel or a long-story? Why not? Let’s see what the fate waiting for us in the future will be like.

The famous Malioboro Street after a long train journey from Bandung to Yogyakarta.


Let me leave all these behind and tell a cheering nice story from the cursed (!) year. Surfing on the net or scanning the news on the most trustworthy (!) source of knowledge, Facebook, an open call by the Embassy of Indonesia in Turkey caught my eyes. It was calling everyone who is interested in Indonesian language and culture to join a speech contest. I asked some of my friends and at first my lovely wife of course for advice and they all encouraged me to join that. The prize was a one-week journey in Indonesia, with many other participants from all over the world.  It was a great opportunity for me to visit Indonesia once again (as I actually I could not do this year due to financial problems), with a better organized culture program. Learning the content and details, I began writing my speech which I was going to sincerely tell my story with Indonesian people and culture, since the beginning. Of course with some help from my wife, who is an Indonesian language teacher, but not too much as it would not be fair and I always believe in the power of “original” yields.

Days passed into weeks and I went on writing my speech text and rehearsing it with my wife, so did the other contestants who have a good knowledge on Indonesia and Indonesian language.  The day was the day to be a public speaker once again, after a long while. I put on a batik which was a gift from a close Indonesian friend and arrived to the estate of Ambassador to join that exciting event. I guess it was not easy for us, as the participants, as everybody tried to communicate with us in Indonesian language. It was a method, in my opinion, to see who could actually communicate in Indonesian language and who could only prepare a text to deliver a speech. The time was to hit the microphone as the last participant (and being not allowed to listen to the other five) and my original and sincere words affected both the jury and audience. They burst into laugh although I did not have an intention to write something funny. But my story was naturally funny, seemingly. The exciting day ended with a tasty meal but the excitement had sustained for one more week until the winners were announced. So once again I reaped the benefit of sincere words and I was chosen as the first winner of contest.

On the day of competition.

I began waiting the day of my flight to my second home and a new adventure. We bought another ticket for my lovely wife who is an eternal supporter of me. However, this waiting turned out to be the hardest one for me and my wife, and indeed for the whole country. After all the turmoil and rush knocks, we took our flight from the capital city of our lovely country to Istanbul, where we were going to be transferred to Turkish Airlines’ only flight to Jakarta, Indonesia. The journey started with my new sister, Zeynep, and went on with my love joining us in Istanbul Ataturk Airport. After an 11-hour flight the airplane touched on one of green Soekarno-Hatta’s taxiways. Warmth of the tones of green welcomed as again to this beautiful country once again. A man had already been waiting for us outside the exit door with a paper on which our names were written. We had to wait for some other participants and gathered a few hours later to head towards the hotel we were going to sleep that night. It was the first night and day of this dream-like journey. And the following days were rather impressive for all of us.

My first new friends were from Myanmar and Malaysia (although Malaysians were not actually Malaysians :). I had to wake up my Thai roommate as it was late night when we arrived to our hotel. The next morning was the beginning of new friendships. I had my breakfast with my dear bro called as “Mo” and new friends from Australia. A friendly guy from Timor-Leste who was the first one to greet me inside the bus, a funny one from Singapore who has a great talent to draw pictures, my Muslim brothers and sister from Egypt and Saudi Arabia, cheerful and young staff of the Ministry of Education and Culture were the first nice people I communicated with. We were representatives of different countries in a bus including Turkey, France, Germany, China, Japan, Timor-Leste, Malaysia, Thailand, Philippines, India, Netherlands, Singapore, Papua New Guinea, Egypt, Saudi Arabia, Australia and United States of America but the most interesting point was that we all could communicate in Indonesian language.

The first day, in Taman Mini Indonesia Indah.

The journey began with nice conversations and sustained throughout this first class experience in the capital city, Jakarta and the most attractive point of Central Java, Yogyakarta. We were treated like Very Important Persons in all phases of this fairy trip and even invited to President’s Palace to celebrate Indonesia’s 71th Year of Independence where we had a chance to meet Mr. President Joko Widodo.  One week full of love, joy and new friendships that will last probably forever… An impressive atmosphere with twinkly and endearious people singing, dancing and laughing together. All members of this new family were sad when the time to leave came round at last.  Could we have a chance to gather again? Probably not like we did in that journey and not with all these beautiful people… But I’m sure that we will all sustain and spread this love and friendship wherever we go. 

A nice picture of our last moments.

“So, where is the peace you talked about in the beginning?”… Do you think all this story I painted in glowing colors was for nothing? Let’s keep and spread this love and peace having begun with the togetherness we established in this beautiful country of Southeast Asia. Let’s keep this spirit wherever we are. Let’s give the leave the stage to the best (for me) voice of Indonesia for the vote of thanks: “Dimanapun kalian berada, aku kirimkan terimakasih. Untuk warna dalam hidupku dan banyak kenangan indah…”*.

That’s all from me. But please stay tuned for an ongoing adventure in Southeast Asia :)

*A quote from one of the lovely songs of Tulus saying “I send my thanks wherever you are, for being colors of my life and many beautiful memories”.

by: Mustafa Kursun

Senin, 19 Desember 2016

Pengalaman Suami Ikut Lomba Pidato Bahasa Indonesia

Sudah terlalu lama saya mengabaikan hobby menulis saya..Saya juga sampai lupa kapan terakhir kali saya nulis wkwkwkwk

Holla, sekarang saya sedang liburan ke Indonesia. Sudah 3 bulan disini hehehee. Awalnya karena mudik ikut suami yang dapet tiket gratisan dari Kemendikbud, eh kita malah keterusan disini hihihi.
Di postingan kali ini saya mau membahas tentang pengalaman suami yang menang lomba pidato bahasa Indonesia dan goes to Istana Negara ketemu pak Jokowi.



Punya suami foreigner yang bisa bahasa Indonesia itu ada enak dan enggaknya, enaknya dia bisa ngerti maksud kita tapi gaenaknya saking terlalu bisanya bahasa Indonesia, Pak suami sampe faham kalo kita lagi ngegosip sama temen di BBM atau Whats App T__T karena ini suamicim suka marah sama saya (jangan ditiru ya :D)

Kekepoan suami terhadap bahasa Indonesia akhirnya menemukan muara ketika KBRI Ankara mengadakan lomba pidato bahsa Indonesia. Langsung dia semangat buat ikut lomba, temen-temen lain juga pada ngedukung suami ikut lomba pidato itu. Hadiahnya adalah tiket PP Turki-Indo Indo –Turki dengan pesawat Turkish Airliness, Uang jajan, Liburan ke Jakarta dan Jogjakarta dan yang pakling special adalah diundang Presiden untuk mengikuti upacara kemerdekaan di Istana Negara :D
Lomba pidato ini pertama diadakan di Turki, jadi pesertanya juga sedikit. Sekitar 8 orang yang daftar dan yang ikut lomba hanya 6 orang. Suamicim dapet urutan terakhir. Sebagai orang yang berkecimpung di dunia BIPA ketika kuliah dulu, sedikit banyak saya mengerti penilaian para juri dan juga ikut memprediksi juara dari kacamata saya. Sebagain besar peserta lomba pidato tidak mengerti bahasa Indonesia, mereka hanya faham beberapa kata. Ada satu peserta laki-laki selain suami saya yang mengikuti lomba itu. Pidatonya cukup berat dan menggunakan bahasa yang sangat ‘akademik’ sekali. Dari caranya berpidato dan berbahasa Indonesia, saya rasa kalau dia ‘hanya menghafal’ saja, dan tidak faham apa yang dia ucapkan. Lalu suami bilang kalau peserta itu tidak faham bahasa Indonesia sama sekali, dia meminta salah satu mahasiswa Indonesia menerjemahkan pidatonya dalam bahasa Turki ke Bahasa Indonesia. Saya akan jadi orang pertama yang tidak terima kalau dia keluar sebagai juara.

Suami saya menulis 90% pidatonya sendiri, dengan kosakata yang dia kuasai. Saya hanya membantu dia mengoreksi beberapa kata yang salah. Mimik, intonasi, pelafalan dan lain-lain saya yang latih. Cukup pesimis tidak jadi juara, akhirnya berbuah manis. Dia menjadi pemenang lomba pidato dengan satu peserta lain yang saya prediksi menang juga. Pada tanggal 15 Agustus, mereka berdua berangkat ke Indonesia bersama saya.

Agak sedikit khawatir kalau keberangkatan suami dan kami tidak jadi. Mungkin sudah tahu kalau tanggal 15 July kemarin terjadi percobaan kudeta di Turki. Pemerintah melarang beberapa masyrakatnya berpergian keluar negri, alhamdulillah suami bisa keluar imigrasi Turki tanpa masalah. Walaupun sebenernya saya degdegan juga, karena suami cukup lama dipelototi oleh petugas imigrasi hehehe.
*** 
Akhirnya kami sampai juga ke negara tercinta. Di bandara kami disambut oleh anggota keluarga lengkap hehhee. Saya dan suami berpisah selama 9 hari disana. Suami dan zeynep (pemenang lain) berkumpul dengan peserta lain dari 18 negara.

Sebagai istri jelas bangga sekali bisa melihat suami memenangkan lomba tersebut, tetapi ada rasa ingin ikut hahaha. Karena saya sebagai WNI tidak pernah sekalipun diundang secara resmi oleh presiden RI ke kediamannya untuk mengikuti acara sakral negara kami.

Saya cukup puas dengan posisi dibelakang layar, menyaksikan dia meraih impiannya cieh cieh. Beberapa foto yang dikirim suami emang bikin saya iri hehehe. Bisa satu ruangan dengan presiden dan staff kenegaraan lain, itu keren banget! Dia bisa pergi ke Jogja juga buat liat merapi, naik jeep pula (one of my wishlist!).


Kalau punya suami foreigner, gak ada salahnya coba ikut lomba serupa. Biasanya KEMENDIKBUD ngadain lomba ini tiap tahun. Tipsnya: latihan percakapan Bahasa Indonesia setiap hari, saya sering ngobrol pakai bahasa Indonesia dengan suami (karena ini bahasa Turki saya jebod T___T). Hadiahnya gak tanggung-tanggung loh,jadi hayuu ikutan juga! Dan tentunya hal ini bisa jadi cerita manis untuk anak-anak kita :) 

Kamis, 17 Desember 2015

Where you can find happiness?



Where?
Yup, where?

Seringkali kita melihat rumput tetangga yang lebih hijau dari rumput sendiri. Hal tersebut tentu saja membuat kita berfikir maçam-macam. Ada yang merasa rumputnya memang jelek atau ada yang berusaha membuat rumputnya sehijau milik rumput tetangga. Pemikiran seperti itu yang kadang  membuat kita melupakan hal yang paling mendasar dalam hidup, yaitu bersyukur.

Dalam dunia modern seperti sekarang ini, sesuatu menjadi mudah terlihat didepan mata. Sekali klik langsung bisa tahu. Kita yang aktif di media sosial pasti sudah tidak asing dengan berbagai tautan, foto, status yang dibagikan oleh banyak pihak. Contoh kecilnya di Facebook, tentu teman-teman facebook kita sering sekali membagikan banyak hal yang menurut mereka patut diketahui. Entah itu mengenai kehidupannya yang seakan-akan sempurna dan bahagia, tentang ılmu baru yang baru saja didapatkan, perjalanan ke beberapa tempat baru dan lain sebagainya. Salah? Tidak, sah-sah saja menurut saya. Asal penyampaiannya dengan cara yang baik, sehingga orang yang melihat bisa menerimanya tanpa harus berfikiran negatif.

Semua orang punya hak untuk bahagia. Dan bahagia itu sendiri adalah sesuatu yang diciptakan. Jadi intinya seseorang bisa menciptakan kebahagiaannya sendiri-sendiri. Ada orang yang berfikir bahwa bahagia itu adalah mempunyai banyak uang. Salah? Tidak sama sekali. Memang ada beberapa orang yang menikmati kebahagiaannya dengan mempunyai banyak uang. Apa semua orang harus memiliki uang agar bahagia? Nah ini baru salah. Semua tidak harus memiliki banyak uang untuk mendapatkan kebahagiaan. Uang bukan ukuran untuk mencapai kebahagiaan. Anak jalanan terlihat bahagia sekali walaupun tidak tidur di dalam rumah mewah. Tetapi terkadang mereka bermain dengan temannya dengan penuh gelak tawa, tanpa beban. Itulah kebahagiaan untuk mereka, bermain dengan semua keterbatasannya. Menciptakan bahagia sendiri.

Seseorang yang selalu membagikan status sedih di laman media sosialnya apakah bisa dicap orang paling merana dalam hidup ini? jangan terlalu cepat memutuskan, bisa saja hidupnya lebih bahagia dari apa yang kita nilai. Begitupula dengan orang yang selalu membuat status bahagia di laman media sosialnya belum tentu bahagia, bisa jadi itu adalah salah satu caranya untuk menciptakan kebahagiaan tersendiri dari semua derita yang sebenarnya ada dalam kehidupannya.

Terkadang secara tidak sadar kita membandingkan kebahagiaan  kita dengan kebahagiaan orang lain. Ya, mungkin tanpa sadar kita pernah melakukan hal ini. ketika seseorang membagikan foto “kebahagiaan” atau “status” kebahagiaannya di dunia nyata dan dunia maya, dalam hati bisa jadi kita mencibir “Ah, hidup gue lebih bahagia kok dari elu”. Dan mulai membagikan sesuatu yang tak kalah bahagia dengan kebahagiaan yang dibagikan orang tersebut. Hal seperti inilah yang mebuat kita sulit menciptakan kebahagiaan yang sebenarnya.

Kebahagiaan yang hakiki adalah ketika kita berhenti membandingkan kebahagiaan milik kita dan kebahagiaan orang lain. Cukup nikmati kebahagiaan kita tanpa harus membandingkannya. Setiap orang punya cara tersendiri untuk bahagia, tidak bisa kita samakan dengan pemikiran kita.
Lalu apa kebahagiaan untuk saya? wah banyak sekali, salah satunya dalah jalan-jalan :D

Selama masih muda dan ada tenaga, sebisa mungkin saya akan terus jalan-jalan. Tentunya bersama suami :)