Aku dan separuh agamaku

Aku dan separuh agamaku

Minggu, 17 November 2019

KOK SAYA GAK SUKA BANGET YA SAMA YANG MAKSAIN

Kenapa sih ya banyak banget orang-orang yang suka ‘maksain‘ buat terlihat sempurna. Kayak apa ya? Norak aja gitu buat saya. Medsos emang racun banget ya, jadi kayak ajang kompetisi. Ingin terlihat wah dan sempurna dimata orang. Segala cara dibuat agar orang-orang melihat dia sebagai sosok yang memang mereka pengen dilihat sebagai itu.

Ingin terlihat pintar, disayang mertua, pasangan yang sempurna dan kehidupan rumah tangga yang ideal. Memaksakan diri menjadi influencer. Tapi apa ya, kadang sih orang yang begitu tuh ya semakin maksain ya semakin keliatan sifat aslinya gitu loh.

Branding diri sih sebenarnya ya sah-sah aja, tapi mbok ya sesuai kapasitas diri aja. Lebih baik malah kalau ngalir aja gitu, gausah memaksakan jadi si ini yang begini dan si itu yang begitu. Manusia yang begini gak akan pernah ngerasa puas, selalu merasa kalau dirinya harus terlihat lebih dan lebih sempurna lagi. Apalagi kalau ditambah dengan sifat narsisme, makin yaudahlah ya. Terus, orang-orang sekitarnya malah suka muji-muji, nambah besar kepala deh orangnya.

Setiap hal yang dipaksakan dan berlebihan itu tidak baik. Semacam jadi penyakit aja. Makin lama orang-orang makin bisa ngeliat sifat aslinya malah. Yaudah sih ya jadi diri sendiri aja. Gak cape terus-terusan begitu? Terobsesi buat terkenal? Kalau udah terkenal mau apa emangnya?


Mrs. Kursun

RANDOM AWESOME

IT’S OKAY NOT TO BE OKAY

27 tahun, jadi banyak mikir, banyak melepaskan dan banyak menerima.
Ditambah sakit juga, pas banget dimalam ulang tahun kemarin badan saya demam parah, sampe Mustafa izin kerja keesokan harinya buat ngurus saya. Kado yang spesial dari Allah, digugurkan dosanya dengan diberi sakit 😊

Pernah homesick? Saya sering. Tapi saya ngerasa “rumah” kita jauh banget. Bukan cuma jauh karena jarak, tapi ya memang “jauh”. Tiap malem, kalau mendadak kangen rumah suka kebangun dari tidur, terus duduk. Kalau gak kuat banget kangennya, ya kadang nangis.

Kemudian mikir, hidup emang gak pernah ketebak. Jalan hidup saya ini kayak banyak belok-beloknya, padahal dulu sih plan saya sama Mustafa ya lempeng aja gitu. Pada kenyataannya, kita berdua banyak mampir dan banyak nyoba “makanan” baru. Kadang cocok dilidah, kadang engga. Tapi tentu semuanya kita makan habis.

Hari ini saya bertekad untuk “yaudah”. Yaudah kalau kangen, iya kangen banget saya akui, apalagi kalau ditambah liat kenangan masalalu pas baru nikah. Kok dulu rasanya hidup saya lempeng dan sebahagia itu (bukan berarti hari ini saya gak bahagia ya). Tapi yaudah, masa itu udah lewat dan saya senang karena saya punya banyak memory untuk dikenang. Saya menerima kalau masa itu gak mungkin balik lagi, sudah berlalu. Saya tidak menyesal “mampir sana dan mampir sini”, dari kegiatan umpar-ampir itu saya nemu teman-teman sejati dan pelajaran luar biasa yang akhirnya membentuk saya yang sekarang. Butuh waktu lama untuk nerima itu.

Video ini semacam penutup Dea’s story chapter 1. Makasih banget buat orang-orang yang terlibat disana, saya gak akan pernah melupakan kalian 😊

Saya sekarang sadar, kalau rumah gak harus bangunan yang terletak disuatu tempat. Sekarang, Rumah saya adalah Mustafa. Selama saya pergi bersama Mustafa, saya akan selalu bisa menemukan rumah ❤️❤️❤️ Terima kasih untuk selalu menjadi rumah yang nyaman dan kuat, walau banyak “badai”, tapi kamu tetap kuat melindungi saya ❤️❤️❤️ 

Dea’s story chapter 1, Turki 2014-2016
Dea’s story chapter 2, Indonesia 2016-.... 
Song: RANDOM AWESOME by @yuna

Because my life was AWESOME ! and will always AWESOME !







Sabtu, 16 November 2019

KETIKA KEPOPULERAN DI DUNIA YOUTUBE MENJADI INCARAN


Hallo again semuanya ! Ceritanya saya lagi rajin nulis ni hehehe, buat ngasah skill nulis juga sih.
Nah kali ini saya mau bahas soal fenomena youtuber gelin dan calon gelin. Yang sudah lama mampir di blog ini pasti familiar banget kan sama julukan gelin.

Ngomong-ngomong, youtuber pasangan campuran Indonesia-Turki emang lagi hits banget ya. Kayaknya paling banyak dibanding pasangan campur Negara lain. Ya, ditambah youtube juga lagi populer banget. Secara, dapet uang dari youtube juga katanya “gampang”. Gak perlu nguli dan qerja qeras bagai quda. Asal bikin video viral, kita bisa langsung terkenal dan dapat uang hehehe. Eh tapi, ada banyak juga kok youtuber yang niat banget bikin konten (EHEM, termasuk The Kursuns ya catet :p). Mereka yang bener-bener memikirkan konten dengan proses editing yang gak main-main. Dikarenakan saya juga nge-youtube, jadi ngerti juga suasana dibalik behind the scene para youtuber (yang niat ya, catet).

Sesekali, saya suka iseng klik “LDR INDONESIA-TURKI” di kolom pencarian youtube. Langsung brebet keluar buanyak video ciwi-ciwi yang lagi kasmaran dengan pria Turki (ada video The Kursuns juga :p). Zaman saya baru banget terjun di dunia youtube, kayaknya baru saya aja sih yang bikin konten disana. Tujuan awalnya juga bukan buat “terkenal”, murni karena iseng aja, buat arsip pribadi. Dulu juga gak ada sistem adsense, jadi ya bisa dipastikan kalau youtuber lama itu tidak se-oportunis sekarang :p

Siapapun sebenarnya ya sah-sah aja kalau mau nge-youtube. Semua orang bisa mencari penghasilan dari youtube. Tujuan mereka nge-youtube ya beda-beda juga. Ada yang emang iseng, nyari uang dan pengen populer. Cuma kadang saya lihatnya gimana ya, keramean guys (eh, emang elu siapeee ? GUE yang punya blog. Jadi terserah gue mau nulis apa dan mau mengungkapkan apa ngoahahaha :D). Isi konten mereka kebanyakan ya sama, seragam. Kebanyakan ya nge-ekspos suami Turkinya, benar-benar dijadikan ‘’Objek’’. Contohnya seperti ‘’Pacar Turki Nyobain Makan Sendal ‘’misalnya. Iya, iya, saya tahu. THE KURSUNS juga pernah khilaf, pernah pake judul click bait begitu. Tetapi semenjak saya di beri wejangan sama Mustafa, saya jadi taubat. Mustafa bilang kalau dia enggak mau dijadikan objek dalam setiap vlog kami. Dia juga engga mau kalau disuruh ngevlog tema yang lagi tranding (pertama dan mungkin terakhir bikin video reaction buat lagu Ayu ting-ting), karena ya gak mau aja. Youtube kami diisi oleh kami berdua, ya objeknya kami berdua. Tidak ada yang lebih dominan disorot, kecuali kalau lagi dikonten masing-masing.  Maafkan kami ya guys.

Buat kalian yang mau nge-youtube, silahkan serius dengan youtube kalian. Buat konten yang berfaedah, kalau bisa ya kontennya yang ramah anak-anak dan remaja juga. Jangan terlalu berlebihan menunjukan keromantisan dengan suami, kasian kaum jomblo disana. Mending kalau jomblonya udah cukup umur buat nikah, lah kalau jomblonya bocah-bocah? Yang ada nanti mereka ikutan nyari cowok Turki. Eh, ini kejadian loh. Waktu kapan gitu saya nemu anak SMP pacaran LDR sama cowok Turki. Ya, terserah sih. Saya bukan emaknya juga, cuma tolong, tolong banget ya temen-temen jadi sedikit bijak aja bikin kontennya. Ini juga sama kok, lagi ngomong ke diri sendiri.
Sebenernya ada banyak yang pengen ditulis, tapi nunggu wangsit kata-kata baiknya dulu. Khawatir temen-temen youtuber lain tersinggung kalau saya tulis sekarang. Lagi menggebu-gebu banget soalnya.

Sekian ya guys, segini dulu.
Mrs. Kursun

Jumat, 15 November 2019

IT’S OKAY NOT TO BE OKAY

Tulisan ini saya dedikasikan untuk semua orang yang menjadi support system saya selama saya mengalami masa-masa sulit. Terutama untuk suami saya, you are the best support system of mine.
I stare at my reflection in the mirror
Why am I doing this to myself?
Losing my mind on a tiny error,
I nearly left the real me on the shelf
No, no, no, no
Ada yang familiar dengan lirik lagu ini? atau mungkin ada yang sama seperti saya? Baru “ngeuh” sama lagu ini setelah 8 tahun berlalu. Kemana saja saya selama ini? lirik lagu sebagus ini aja saya baru tau hehehe.
Bait diatas merupakan penggalan dari lirik lagu “Who You Are”  milik Jessie J. Sebuah bait lagu yang “gue banget”. Bahkan ketika saya sampai ke reff, mendadak saya menangis.
“It’s okay not to be okay”
Saya mengingat semua yang terjadi 3 tahun lalu, the hardest time of our life. I mean, litteraly “hardest”, saya tidak yakin “kalian” sanggup berjalan disepatu yang saya gunakan saat itu. Saya selalu mencoba bermain dalam game “I’am okay, thank you”, padahal kenyataannya tidak demikian. Saya merasa cukup kuat untuk berjalan dalam ujian tersebut. Dunia hanya ingin melihat saya bahagia, tetapi pada hakikatnya saya juga manusia. Saya punya waktu untuk bahagia, bersedih, marah, kecewa, dan galau. Rasanya sudah cukup untuk berpura-pura bahwa keadaan saya baik-baik saja 3 tahun lalu, ya.. saya tidak baik-baik saja waktu itu. Saya rindu Turki, saya rindu kehidupan saya disana. One of the best part of mine.
Saya merasa hidup dalam mimpi buruk yang berkepanjangan. Kehidupan “sempurna’’ saya hilang dalam sekejap, kami benar-benar diuji sedemikian hebatnya saat itu. Ya, sudah saya bilang kan tentang mitos 5 tahun awal pernikahan? Itu ujiannya. Setiap pasangan mempunyai ujian masing-masing, tetapi saya tidak pernah menyangka ujian kami sehebat itu. Hal baiknya adalah saya dan suami melewati hal tersebut bersama-sama. Kami berdua menjadi support system satu sama lain, walaupun terkadang Mustafa yang lebih banyak menjadi support system saya, padahal saya tahu dia juga dalam keadaan tidak baik-baik saja. Tetapi demi saya, dia rela memakai topeng “I’am fine baby, it’s okay”.
Pada akhirnya, Mustafa juga pernah menangis dan meluapkan semua perasaannya. Dia juga sedang tidak baik-baik saja, dia juga sedih, bukan hanya saya. Lelaki boleh menangis, bahkan untuk ukuran seorang tentara yang juga kepala rumah tangga. Ya, mereka yang dituntut selalu kuat juga butuh menangis. Lelaki bukan robot. Berhentilah  beranggapan bahwa lelaki sejati tidak boleh menangis.
Selama 3 tahun tersebut, saya sempat mengalami masa dimana saya selalu membenturkan kepala saya secara tidak sadar ke tembok kamar sambil menangis. Mustafa sangat ketakutan ketika melihat saya seperti itu, dia sangat khawatir. Hal tersebut benar-benar dilakukan diluar kendali. Saya mengalami masalah mental yang cukup serius, sampai pernah saya meminta izin Mustafa untuk pergi ke psikiater dan melakukan pengobatan. Diluar saya terlihat baik-baik saja, tetapi tidak didalam.
Seiring berjalannya waktu, saya bertemu dengan orang-orang baik, sahabat-sahabat saya. Saya bercerita, saya menangis, saya mengakui bahwa saya lemah saat itu. Mereka mendengarkan, memberi pundak yang nyaman untuk saya menangis. Tekanan hidup tersebut bukan hanya satu dua kali menimpa saya, countless. Setiap masa tersebut datang, mereka ada untuk saya. Terkadang, saya tidak perlu masukan, saya hanya ingin didengarkan dan dimengerti. Mereka memberikan hal yang saya mau. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian yang ada disaat tersulit saya. Saya tidak butuh dihakimi atas keadaan saya, atau dibandingkan dengan orang yang memiliki ujian lebih berat dari saya. Hey, ujian inipun berat untuk saya. Kapasitas saya ya segini, bukan maksud untuk tidak bersyukur, tetapi jangan mencoba membandingkan ujian saya dengan ujian orang lain. Tidak ada hal yang menyenangkan dari sebuah “perbandingan”.
Tetapi, tidak semua orang bisa dicurhatin juga. Saya juga pernah cuhat kepada orang yang salah. Masih teman saya memang, tapi belum cukup untuk menjadi teman curhat. Yang saya dapatkan saat itu hanya perbandingan dan cibiran. Cukup sulit juga menemukan orang yang bisa mengerti keadaan kita, walaupun sudah jujur dari A sampai Z.
Setiap orang punya kapasitas sendiri-sendiri. Bagi kalian mungkin dapat nilai kecil saat ujian  itu hal biasa dan spele. Tapi untuk sebagian orang, hal tersebut bisa menjadi akhir dunianya. Dibanding mencibir mereka, lebih baik kalian diam. Jangan tambah perasaan sedih seseorang dengan perkataan yang tidak perlu. Gunakan mulut atau jari kalian untuk hal yang lebih bermanfaat.
Kita gak perlu selalu merasa kuat dalam setiap keadaan. Jujur akan keadaan kita yang sebenarnya itu jauh lebih menenangkan. Menangis sejadi-jadinya ketika solat dan curhat panjang lebar dengan Allah juga sangat membantu untuk meringankan beban pikiran kita. Komunikasi satu arah, tapi kita tahu bahwa Allah mendengarkan kita. Allah tidak pernah meninggalkan kita dalam keadaan apapun.
Berhentilah menghakimi keadaan seseorang, apalagi mencibir yang tidak perlu. Membandingkan “kekuatan“ kalian dengan mereka yang kalian rasa memiliki ujian hidup yang spele. Cobalah dengarkan keluhan teman kalian, itu sangat membantu. Didengarkan saja sudah cukup untuk sebagian orang.
Ya, pada akhirnya kita semua pernah dalam masa tidak baik-baik saja. Hanya saja seringkali kita lebih banyak bermain didalam game “saya baik-baik saja“. Tidak apa-apa menangis, tidak apa-apa marah dan kecewa. Menangis itu menyembuhkan. Kapasitas setiap orang berbeda, tidak harus sama satu sama lain.
Untuk kalian yang sedang tidak baik-baik saja, kalian boleh menangis :)
Jujur pada diri sendiri, Allah dan teman terdekat kalian. Untuk kalian yang didatangi oleh mereka yang sedang tidak baik-baik saja, sesekali kalian hanya perlu mendengarkan mereka. Karena terkadang mereka hanya perlu didengarkan tanpa dihakimi.

image

Another anniversary story...


(tulisan ini dibuat dihari perayaan hari pernikahan kami yang ketiga, 14 Oktober 2017. Ditulis oleh Mustafa dan baru diterbitkan 13 November tahun 2019)

image
We stand where we did stand years ago. Still together, still with love...
Today is the first day, just as it was three years ago today.
First days have always been a reason of motivation for me to write my feelings down.
I decided to write, but only some short passages this time, just like I did two years ago. Two years ago when we experienced that adventurous journey from my motherland to yours and back. This time it will even be simpler...
I know this is only the beginning of our story. If you ask those who have already come a long way in marriage, perhaps they will laugh at us and say some words which will probably mean “You are still young and have a long way to go” etc. The only thing I’d like to tell them is “Tell me about it!”. Please don’t get me wrong. It is not a complaint about my life. Who knows where would we be if not here in this situation? Who knows what would we do now? Would we be together or they take us apart? Anyway, we are still together, still free and still lay back on the same pillow every night. And this is enough to be grateful for the Almighty Allah!
However, it is sure a turning point in our lives and it cannot be simply misprized as a period of rawness. God knows, would those (somewhat) outsiders put up such resistance if they went through the same we have been going through since the beginning of these three years? Would they go on struggling or give up just like some others who got tired even before the beginning of their stories?
How about those claiming to have the same story as us? Do they really know our story? Do they really feel what we feel?
No way I can or dare to belittle stories of others. Each story is unique. And, so mine is…
Today is a gladsome day for us. But it also is a little bit blue…
Gladsome as we have put three years behind us with all its ups and downs, blue as we have been passing through maybe the hardest time of our lives in this wild world.
I know I did not start with heartwarming words to this writing which was supposed to be simpler. At least I claimed so in the beginning but it again turned to be a complicated one. Okay, no problem I think... I remember those words I wrote for you when we sometimes were over the moon and sometimes up in the clouds with the hope to touch each other during that painful long distance time. What beautiful days they were! But isn’t today as beautiful as those? I think it is. And it is only in our hands to make it even more beautiful.
Ok…
This nonsense talk is enough I think. Now let me tell you something, my life, my wife, my everything…
You are stronger than I was thinking before and I know you will be more.
You are getting more beautiful in my eyes every single morning and night.
You are the only one who stays beside me in this hard period of life. I sometimes think like, “How can she stand such a problematic man in her life?” but you do and you are still with me, as my best and biggest supporter.
You are my love. I love you, baby. Just like the first time I wrote to you, I want to sing it out loud that I love you so much!
Please forgive all of my mistakes for these three years’ sake.


I know well that you’ve never lost your hope, but let me tell a story to you which I lived just two days ago. It was one of the strangest moments of my life.
That day (night actually) I met one of the purest humans living on earth. He is probably about 40 years old and if you don’t really know him, you may think he is a dangerous man. His face is a little bit scary and his body is strong enough to harm anyone weaker than him. But when you see the smile on his face, all these iced prejudices start to melt down.
Believe me, I told nothing to him about my past and future! He just heard that we are planning to go to that peaceful place we wish to live. You know where I mean…
But he was so sure when was expressing these words just at in the beginning of our conversation, “You will be very successful soon. Just in three years!”
I was shocked to hear this. What did he mean? How could he be so sure like he was?
Then I started to ask questions to him. He insisted on saying same words to me. “You will go to that country you want. You will stay there three years and start to be successful in the first year.”
I felt really strange and wanted to cry. But I held my tears as I was too shy to do that there.
Then I asked him again: “So, when I will leave here? What do you think about the time?”
His answer was as strange as his first sentence, “Only in three months you will leave here and go there. And you will be successful there in three years. I know you have some problems in your country now. But this is only a little problem. Don’t worry” he said. But he also warned me, saying “When you go there and become successful, don’t forget this country, these people and us. You must come back to here”.
Can you imagine how sure he was talking about my future?
Then again without hearing any words from my mouth, he said, “And you will have a baby soon. And when you have your baby, something will change…”
I will keep this “something” as a secret until that time comes. Please don’t ask anything about that? Deal? :)
Let me give two simple predictions of him to help you believe these words more strongly.
I asked him the reason why I got too many little accidents in only one week.
He said “It is because you have more jobs than before now, your economy is getting better and this is a warning for you. It says ‘Don’t forget sadakah!’ to you”. Then my friend asked him, “What do you think? Is the way going to his home safe now or not?” and he said “There is no problem. It is so safe”.
I thought about these words whole the way going home. The road was strangely empty and there was no problem until I came to the city center. And you know the end of the story and the miracle which saved me thanks to a friend waiting there with the others. No need to give more details I think :)
I was so excited to tell all of these words to you when I came back to home. But I decided to wait until this special day of us as I couldn’t prepare any beautiful gift for you this year. So please accept my simple gifts and these exciting wishes from that pure heart.
So,
What are we waiting for?
Still, I’m (putting up a resistance)
I’m gonna work it out
You know I’m (putting up a resistance)
I’ve got to work it out
Lord, I’m (putting up a resistance)
I’m ah gonna work it out
You know I’m (putting up a resistance)
I’m gonna work it out, Lord!
Got to fight it!
Got to fight it!
Just listen to this song, say a prayer and relax.
Allah has the best plan for us :)
Note: By the way, I will not share this to the public until you privately read. After that, you decide. To share or not to share...

SAYANG, WE DID IT !

Jakarta, November 6th 2019
Happy 5th anniversary, sayang..

image
Malam ini, tepat pukul 2 malam waktu Indonesia barat. Sebenernya saya engga ada niat nulis sama sekali, rasanya kemampuan menulis saya tidak setajam dulu karena emang jarang banget dilatih hehehe. Jadi maaf ya kalau tulisannya rada ‘kaku’ pas kalian baca.

Berawal dari ke-gabut-an saya baca tulisan Mustafa diarsip tumblr yang ternyata sudah tersimpan 2 tahun lamanya. Tulisan tersebut belum pernah kami terbitkan karena kami ‘menunggu’ waktu yang tepat  kapan harus membagikannya kepada kalian semua, kami masih menunggu. Sebuah tulisan yang penuh dengan kejujuran dan pelajaran berharga dari seorang Mustafa Kursun. Tulisan yang lagi-lagi bikin saya nangis. Mustafa emang jago banget kalau bikin tulisan super baper! Serius!

Engga kerasa, usia pernikahan kami sudah memasuki usia 5 tahun (dengan hitungan 7 tahun kita bersama). Rasanya baru kemarin saya sibuk nyiapin pernikahan, degdegan nunggu Mustafa di bandara, lah ini udah 5 taun aja guys :’D.

Bener-bener deh, 5 tahun pertama itu bukan waktu yang mudah untuk dilewati. Apa kalian pernah dengar mitos ujian 5 tahun pernikahan’ ? dulu kami juga menanggap hal tersebut hanya mitos belaka. Terbuai dengan kehidupan serba mudah ditahun-tahun awal membuat kami sedikit ‘menyepelekan’ mitos tersebut. Sampai pada akhirnya, ujian tersebut datang.

Tahun ketiga pernikahan kami mungkin bisa saya bilang sebagai tahun tersulit pernikahan kami. Dimana rasanya saat itu kehidupan kami benar-benar sedang diuji sedemikian rupa. Ketika kami melihat kembali ke ‘moment’ itu, rasanya kami bangga banget sama kemampuan ‘survive’ kami saat itu. Gak nyangka bisa ngelewatin itu dan bertahan sejauh ini :’D. Gak mau balik lagi dah ya, sekali aja haha.

Percayalah, tidak ada satupun pernikahan yang ‘mulus’ seperti wajah glowing artis Kroyah :’D

Kehidupan pernikahan kami bukan kehidupan pernikahan ‘relationship goal‘ ala influencer Instagram atau youtube. Bener-bener pernikahan yang penuh dengan cela. Saya yang masih suka ‘moody-an’, Mustafa yang kadang gak percaya diri. Kami kadang malu kalau ada yang bilang ‘Kami suka banget sama kalian’ bla bla bla bla di youtube atau instagram kami. Sungguh, kami berdua gak pantes buat diidolakan.

Malam ini saya tiba-tiba berfikir satu hal, ujian demi ujian kehidupan membuat saya semakin yakin kalau memang saya dan Mustafa ditakdirkan untuk melewatinya bersama-sama. Kami berdua saling mendukung, kami berdua saling berpegang erat. Walaupun pernah juga kami sampai pada titik dimana kehidupan kami berdua benar-benar tidak ada gunanya.

Terkadang saya malu dengan Musatafa yang hampir tidak pernah saya dengar mengeluh dengan keadaan kami, seburuk apapun keadaannya saat itu. Mustafa selalu bisa menyembunyikan ketakutannya terhadap masa depan kami, dia yang selalu berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Dia benar-bener ‘support system’ terbesar dalam hidup saya. ‘what can I do without him?’.

Saya yang terkadang kehilangan harapan akan masa depan kami benar-benar sering dibuat ‘lemah‘ dengan ‘ke-santuy-an‘ Musatafa. Tidak pernah sekalipun saya melihat dia ketakutan akan takdir kami. Dia selalu optimis kalau suatu hari hidup kami akan jauh lebih baik dari hari ini.

Teman-teman, ada banyak kejadian dari pernikahan kami yang tidak pernah kami ceritakan kepada kalian. Rasanya sangat pahit jika dibayangkan kembali. Ujian pernikahan setiap pasangan itu berbeda. Ada yang diuji kesetiaan pasangan, ada yang diuji dengan ekonomi, ada yang diuji dengan kebebasan dan kemerdekaan, pun ada yang diuji dengan anak. Mungkin ada masanya kami berbagi sedikit kepada kalian. Bukan untuk pamer dengan kesuksesan kami melewati itu semua, tetapi untuk memotivasi bahwa kalian semua juga bisa ‘melewati‘ saat-saat terberat dalam hidup kalian. Tidak ada ujian yang terlalu berat dan terlalu mudah, Allah tau kapasitas hambanya masing-masing. Tidak ada pilihan lain selain ‘melewati‘ ujian tersebut dengan seluruh tenaga yang kita miliki. Aduh malem ini kok bahasan saya rada serius banget ya :”D

Ya pokoknya gimanapun ya beginilah. Intinya saya dan Mustafa bahagia banget udah berhasil ngelewatin titik aman pertama dalam kehidupan rumah tangga kami. Sungguh waktu yang sangat sulit dilalui dan kami lewati dengan cucuran air mata :”D (serius ini kaga lebay guys). Segini dulu ya tulisan gabut saya, semoga kalian terhibur dengan membaca ini hahaha.

Iyi geceler herkese!


image

Mrs. Kursuns