Aku dan separuh agamaku

Aku dan separuh agamaku

Jumat, 15 November 2019

SUAMI SAYA BUKAN ORANG TURKI ! TERUS ORANG MANA?

(Sudah terbit di mylongdistancestory.tumblr.com pada tanggal 19 Mei 2019)


Heho holla merhaba semuanya! :)
Muç'ore? 
Eh bahasa apa ini? Bukan bahasa Turki yak hahaha! Nah jawabannya nanti ada di bawah yaa..
Saya mau update blog lagi ni ya hehehe, semoga bisa terus konsisten ya ngisi tulisan di blog. Gimana puasanya? Semoga masih lancar yaaa, inshaAllah. Semoga ibadah kita berkah di bulan Ramadan ini ya gesss. Lah banyak beud semoganya ini malihhhh wkwkwkw.

Yuk capcus kita mulai aja yaa..

Ketika ngebayangin “orang Turki”, secara fisik, kalian lebih ngebayangin orang Turki itu kayak orang mana? :D Kebanyakan pasti kayak saya ni waktu dulu, ngebayangin orang Turki mukanya agak mirip sama orang Arab hehehe. Iya, saya emang dari dulu suka banget sama “Turki”, tapi saya engga terlalu hafal kalau karakterisik orang Turki ternyata jauh berbeda dengan orang Arab.
Saya dulu memang cari tau di google dengan kata kunci “orang Turki’, dan yang keluar adalah orang-orang dengan muka khas “Anatolia” (waktu itu, muka Anatolialah yang saya kira sebagai muka Arab Turki hehe). Orang Arab dan Turki itu beda ya gesss. 


image

Orang Arab


image

Orang Turki
Setelah itu, saya mulai kenal beberapa teman Turki, waktu itu salah satu orang Turki pertama yang saya kenal adalah Sumeyya. Secara fisik, muka Sumeyya lebih terlihat seperti orang Pakistan/ India. Setelah Sumeyya, saya mulai kenal dengan Mustafa alias suami saya hehehe. Sumeyya dan Mustafa termasuk teman yang rajin mengirimkan foto-foto anggota keluarganya kepada saya. Baik Sumeyya dan Mustafa sama-sama memiliki keluarga dengan karakterisitik fisik berbeda.


image

Bersama Sumeyya

Waktu itu saya masih belum tahu kalau Mustafa tidak sepenuhnya orang Turki. Dia tidak pernah menyinggung tentang darah suku Laz yang mengalir ditubuhnya. Dia hanya bilang, kalau ibunya berasal dari Karadeniz (laut hitam), itu saja. Dan ya, Mustafa juga rajin mengirimkan foto ibunya kepada saya. Secara fisik, ibu Mustafa terlihat sangat cantik untuk saya. Wajahnya ketika muda mirip dengan The Duchess of Cambridge, Kate Middleton bagi saya. Mungkin memang orang Turki secantik ibu Mustafa, saya fikir demikian hehee. Sejak saat itu, mindset saya tentang ciri fisik orang Turki berubah. Saya berfikir kalau mertua perempuan saya adalah salah satu wajah bangsa Turki yang lain dan akan banyak saya temukan di Turki kelak. Nah berbeda dengan baba Mustafa alias ayah mertua saya, wajah beliau  lebih banyak terlihat “Anatolia”-nya bagi saya. Walaupun sebagian besar keluarga beliau berasal dari Bulgaria, tetapi keluarga beliau masih keturunan Turki yang pada masa kesultanan Ottoman pergi bermigrasi ke Bulgaria (lalu akhirnya satu orang dari mereka kembali ke Turki untuk menikah dengan gadis pujaan hatinya).



image

Bersama baba dan ibu mertua


image

Ibu Mertua ketika muda. Ada foto beliau sebelum menikah yang tidak mengenakan jilbab dan sangat mirip dengan Kate Middleton, tapi maaf ya fotonya tidak bisa saya bagikan :)

Saya dan teman-teman seperjuangan LDR sering bertukar cerita perihal keluarga pacar-pacar kami hehehe. Saya kerap dikirimi foto keluarga pacar teman seperjuangan saya, dalam hati saya bergumam “Kok beda ya ciri fisiknya saya calon mertua gueh, jadi yang mukanya Turki banget itu yang mana sik yaaaa?” :D
Pernah ada kejadian unik yang saya ingat. Waktu itu, ada kenalan saya yang berasal dari Turki dan sedang mengikuti program “Exchange student” ke Indonesia. Namanya Umut, usianya skitar 16-17 tahun pas kita ketemu. Saya dan teman-teman belajar bahasa Turki ketika di Bandung pergi mengajak Umut (yang saat itu sedang berlibur ke Bandung) untuk berkeliling kota Bandung. Saya perhatiin, kok mukanya Umut agak mirip Mustafa ya sedikit. Apa ya, gimana ngejelasinnya..pokoknya ada ciri fisik Umut yang mirip Mustafa untuk saya.
Waktu itu Umut cerita, kalau dia juga bukan orang Turki asli. Mama Umut asalnya dari Georgia. Jadi ya kata Umut, secara fisik muka dia agak beda sama orang Turki. Tapi dalem hati “Tapi iye mirip sama calon mertua gue fisiknya yaa.. tapi calon mertua gue bukan orang Georgia wkwkkw”.
Setelah menikah, saya dan Mustafa menetap di Ankara. Kemudian saya jadi tahu kalau penduduk di Turki itu berasal dari banyak ras dan suku.  Orang “Turki” belum tentu semuanya bangsa Turki. Ada banyak bangsa lain yang menetap disana, nah yang paling banyak saya temukan ketika ke Turki sih ya bangsa Kurdish. Oya, bangsa Turki dan Kurdish itu berbeda. Ada beberapa masalah politik di Turki yang bikin sedikit kayak jarak antara bangsa Turki dan bangsa Kurdish di Turki. Secara fisik, wajah mereka juga berbeda dengan bangsa Turki.  
Lanjut ke cerita pencarian asal usul Mustafa (eaa eaa wkwkwk). Nah, beberapa kali kami pergi ke Istanbul buat liburan. Entah kenapa, di Istanbul dia selalu dikira turis asing. Teman-teman saya juga awalnya mengira kalau Mustafa punya darah Jerman hahaha. Lah, doi tok Turki kok.. Mustafa kaga ada keturunan Jerman. Tapi ya, di Indonesia juga banyak yang gak nyangka kalau Mustafa orang Turki.
Nah, setelah menikah, saya sering main ke kampung ibu Mertua saya di Düzköy, Düzce. Disitulah saya banyak menemukan “kembaran fisik“ ibu mertua saya hahaha. Dari keluarga besarlah saya tahu cerita lebih dalamnya kalau mereka memang bukan orang Turki. Mereka berasal dari suku Laz di kawasan Karadeniz (laut hitam). Dulu, keluarga besar ibu mertua datang dari distrik Borçka, Artvin (wilayah timurlaut Turki). Cuma ya sekarang di Borçka udah gak ada keluarga atau keturunan dari mereka. Semua keluarga sudah pindah ke Düzce. Usut punya usut, di Düzce emang banyak orang Karadeniz, atau orang yang berasal dari Karadeniz . oya, orang Karadeniz dan orang suku Laz itu beda ya. Gak semua orang Karadeniz itu orang Laz. Jadi Karadeniz itu adalah wilayah di bagian utara Turki. Nah, orang Laz itu ya tanahnya emang di wilayah sana. Eh ngerti gak sih penjelasannya :D kayak berbelit-belit gitu etdaah. Intinya gitu, keluarga Mertua saya emang orang Karadeniz, tapi mereka bukan orang Turki.


image

Berlebaran bersama keluarga di Düzköy. Mereka semua orang Laz.


image

Anak-anak suku Laz.


image

Ibu mertua mengenakan bergo pemberian mama saya. 

Ketika orang Laz berkumpul, biasanya mereka lebih suka berkomunikasi dengan bahasa mereka sendiri. Pertama denger sih bahasa mereka mirip sama bahasa Rusia buat saya, tapi aslinya beda banget. Bahasa Laz dan bahasa Turki itu beda jauh ges. Jadi kayak bahasa sunda sama bahasa Indonesialah ya. Beda banget intinya. Dan bahasa Laz Turki dan bahasa Laz Georgia juga beda, mertua saya Cuma ngerti beberapa kata dari bahasa Laz Georgia. Nah Muc’ore itu bahasa Laz yang artinya apa kabar dalam bahas Laz, dalam bahasa Turki apa kabar itu Nasılsın. Beda banget kann gess :D



image

Alfabet Bahasa Georgia.


image

Alfabet Bahasa Laz (Lazuri Alboni) + Latin


image

Ibu mertua dan bapak mertua ketika muda serta Ayse dan Mustafa saat masih bayi.
The Laz people or Lazi (Laz: Lazi, ლაზი; Georgianლაზი, lazi; or ჭანი, ch'aniTurkishLaz) are an indigenous Kartvelian-speaking ethnic group[9] inhabiting the Black Sea coastal regions of Turkey and Georgia.[10]
Estimates of the total population of the Laz people today vary drastically, with numbers as low as 45,000 to as high as 1.6 million people, with the majority living in northeast Turkey. The Laz speak the Laz language, a member of the same Kartvelian language family as GeorgianSvan, and Mingrelian.[11][12] The Laz language is classified as endangered by UNESCO, with an estimated 130,000 to 150,000 speakers in 2001.[13]
Source: Wikipedia


image

 Wilayah Karadeniz/ laut hitam. 
Nah, kata mbah Wikipedia, orang Laz itu datang dari kawasan laut hitam di Turki dan negara Georgia (negara tetangga Turki). Akhirnya saya bisa bobok dengan tenang, kejawab sudah kenapa Mustafa dan Umut ada mirip-miripnya. Karena mama mereka sama-sama orang Laz hehehe.
Di kota Düzce, banyak juga orang Laznya. Salah satunya ya keluarga Yavuz (keluarga mertua perempuan). Dulu pernah ada beberapa peneliti yang datang ke rumah kakek Mertua buat bikin penelitian tentang keberadaan suku Laz di Düzce. Bahkan, pernah ada professor dari Universitas Düzce dan dari Georgia yang khusus datang ke rumah beliau untuk mengadakan penelitian. Kenapa yang dipilih kakek mertua? Karena kakek mertua  merupakan salah satu orang suku Laz tertua di kawasan Düzköy (atau mungkin Düzce).


image

Bersama almarhum kakek mertua.


image




image

Nenek mertua saat masih hidup bersama Mustafa dan Ayse.
Sempat ada pertanyaan, apakah suku Laz diterima dengan baik di Turki? Mengingat beberapa bangsa Turki agak sedikit yang overproud akan darahnya. Gimana ya jelasinnya? Kadang beberapa bangsa Turki ada yang agak sensi sama bangsa lain yang tinggal di tanahnya. Contohnya kayak ke bangsa Kurdish. Kayak yang saya jelasin diatas, mereka agak sedikit berjarak sama orang Kurdish karena politik. Nah, ada beberapa grup Kurdish yang ingin memiliki sebagian tanah di wilayah negara Turki untuk dijadikan wilayah kedaulatan negaranya, mungkin karena ini sih bangsa Turki rada sensi sama bangsa Kurdish. Sedangkan kalau bangsa laz sendiri beda. Bangsa Laz gak ada keinginan untuk mengambil wilayah Turki untuk dijadikan wilayah kedaulatannya. Begitu kiranya penelitian sok taunya saya hahaha. Tapi so far ya bangsa Turki dan bangsa Laz harmonis aja hidupnya. Belum pernah denger mereka ada konflik gitu.


image

Salah satu perempuan Kurdish. 

Gak banyak juga orang Indonesia yang suaminya orang Laz. Setau saya, Cuma saya dan Mbak Rosana (gelin Ankara). Kalau suami mbak Rosana itu full darah Laz karena orang tuanya dari Laz semua. ,
Secara fisik (ini menurut penelitian ala-ala antara saya dan mbak Rosana), orang Laz kayak lebih putih gitu kulitnya. Ini ternyata bener, karena suku Laz masuk ke ras Kaukasian (atau kaokasoid). Mereka lebih dikenal dengan sebutan “orang kulit putih”, begitu gess.. jadi bener dong yes penelitian ala-ala saya dan mbak Rosana wkwkwk.
Ciri fisik yang lain (masih berdasarkan penelitian ala-ala saya dan mba Rosana), orang Laz banyak yang bermata biru dan berambut pirang. Ini saya liat dari keluarga besar mertua perempuan saya sih,  mereka semuanya bermata biru (agak keabu-abuan), adik ipar (kembaran Mustafa) juga warna matanya biru. Kalau Mustafa warna matanya hijau army dan kadang kayak ada warna biru (super sedikit) kalau kena sinar matahari. Dan rambut Mustafa juga coklat, pas bayi malah pirang banget. Begitu gess. Ternyata emang orang Laz itu gabisa disamain sama bangsa Turki, yak karena secara fisik dan bahasa aja beda jauh. 


image

Mata Ayse yang berwarna biru keabu-abuan.



image

Bersama Ayse.
Tapi ini bikin saya tertarik sama suku Laz loh geees. Saya jadi kepengen bisa bahasa mereka (mertua saya pasti seneng banget kalau saya bisa bahasa Laz hahaha). Bahasanya unik dan gak banyak dipake sama masyarakat Turki hehehe. Soalnya, sekarang bahasa Turki udah mainstream abis. Banyak orang yang berbondong-bondong untuk belajar bahasa Turki. Tapi mbak Rosana males belajar bahasa Laz karena udah pusing duluan sama bahasa Turki katanya wkwkwkkw.
Saya dan Mustafa punya cita-cita menjelajah Borçka suatu hari nanti, semacam napak tilas silsilah keluarga Laz disana. Selain  Borçka, kami juga punya cita-cita buat keliling Bulgaria dan nyari keturunan Kurşun lain disana. Pasti masih banyak disana, secara cuma kakek-kakek-kakek dari baba mertua (entah keturunan keberapa) yang kabur ke Turki hehehe. 
Nah, itulah penjelasan sederhana tentang suku Laz. Lain kali saya akan bahas soal bahasanya ya ges hehehe. Pokoknya saya kudu bisa bahasa Laz wkwkwkwkw. Yang punya  suami atau pacar atau temen Turki bisa sedikit bikin penelitian ala-ala juga nih. Mereka itu bangsa Turki, bangsa Kurdish atau bangsa Laz kayak suami saya. Karena ya balik lagi, gak semua masyarakat Turki di Turki itu orang dari bangsa Turki (eh gimana sik ini wkwkwkw). Ya begindanglah, semoga tulisan blog ini sedikit memberi informasi tentang Turki buat kalian yak.
Guri k’aite! (Hoşcakal=selamat tinggal)



image

Mustafa ketika kecil.


image

Ketika Mustafa dan Ayse masih bayi.


image

Ketika Mustafa dan Ayse saat masih SD.


image

Saya bersama Ayse dan ibu mertua. 

KEJADIAN PALING NYESEK DITAHUN 2018

Ohalo ges, lagi semangat nulis ni hahaha. Dari tulisan jangan nikah sama orang Turki, saya langsung lanjut ke tulisan ini. Rada melow sedikit sih, karena rasanya si hati masih ada luka-luka bernanah gitu : ‘)
Jadi kayak mikir, idup gak punya uang tuh serba susah. Mau apa-apa susah, bahkan mau nerusin sekolah juga susah. Gini ceritanya ges, saya sama suami kan emang ada goal lain gitu. Kita berdua kepengen bisa go abroad, hidup di Negara lain selain Turki dan Indonesia. Negara tujuan kita adalah US, Kanada, dan Negara-negara Eropa. Sejak tahun 2017 kita berdua (sebenernya suami doang sih wkwkwkwk) aktif buat daftar-daftar ke tiap universitas di luar negri. Suami ngambil jurusan Asian Studies dan interpreting and translating gitu (beda-beda kampus). Oya, sebenernya suami masih mahasiswa S2 di ODTU. Doi ambil s2 Asian studies disana, tapi doi mutusin buat cuti karena kita ada sesuatu yang mesti kita dilakukan di Indonesia. kalau balik ke Turki ya doi masih bisa sih nerusin kuliahnya yang belum rampung. Cuma ya kalau doi keterima kuliah di Negara lain, yang di ODTU mau dilepas.  
Alkisah, kita udah hampir hopeless gitu pas daftar kesana kemari. Lamaran ke Kanada semuanya ditolak. Terus akhirnya kita pindah haluan buat daftar ke Jerman. Ada banyak pertimbangan kenapa kita pilih Jerman, salah satunya yak karena pendidikan di Jerman gratis buat semua orang termasuk WNA. Cumaaaa, biaya hidupnya tinggi disana.
Ada beberapa kampus yang jadi target suami. Kali ini suami ambilnya seragam, jurusan Asian studies. Rada lama nunggu pengumumannya.. Sampai pada suatu pagi, saya cek email di HP suami...
Ada email dari Hamburg Universiti, dan ALHAMDULILLAH suami lolos S2 disana. Langsung dong saya teriak dan bangunin suami. Cuma dia kayak yang kurang semangat, kayak ya seneng sih tapi rada ada yang dipikirin gitu. 
Tapi kita berdua tetep ngurus dokumen sana sini ya buat pelengkap keberangkatan suami ke Jerman. Suami sempet ngontak omnya buat jadi sponsornya di Jerman, doi daftar mandiri gak pake beasiswa. Beasiswa buat orang Turki itu gak banyak. Jadi ya mau gak mau kita daftar mandiri dan minta bantuan orang lain. Cumaaa, omnya waktu itu mudik ke Turki, jadi ngurus surat sponsornya rada gak maksimal. Saya udah khawatir sih, tapi masih optimis suami bisa berangkat ke Jerman walaupun waktunya mepet banget. Cara kedua ya kita harus ada uang deposit yang disimpen di BANK JERMAN sebesar 8000 euro, diendapkan selama satu tahun. Yang ini kita gasanggup, uang dari mana cobak ???
Semua dokumen penunjang bener-bener udah lengkap, sampe legalisir ijazah juga. Bahkan dokumen transkrip nilai dari univ lama udah dikirim semua ke Jerman. Suami dapet email dari kampus, bahwa dia resmi jadi mahasiswa di Hamburg Uni. Saya bahagia banget waktu itu, bangga banget sama suami. Akhirnya perjalanan daftar dari 2017 berbuah juga...
Tapi masalah gak berhenti sampe situ. Kita masih nunggu keputusan surat sponsor dari omnya suami. Sebenernya kepengurusan surat sponsor itu gak terlalu lama. Eh beda-beda gitu tiap kota, di Ausburg tempatnya temen saya, ngurus surat sponsor Cuma butuh waktu satu hari. Nah kebetulan (emang lagi apes aja kita) ngurus surat sponsor di Koln (kota omnya Mustafa) katanya butuh waktu sekitar 2 minggu. Kelamaan banget, dan belum tentu diterima. Saya sih yakin kalau soal diterima, kerjaan om Mustafa juga bagus, doi lawyer di Jerman..mampulah ya buat jadi sponsor.  
Kita nunggu, nunggu dan nunggu..
Sempet masih ada harapan kalau suami paling telat masuk kelas selama 2 mingguan karena masalah visa. Tapi pada akhirnya, kita telat untuk pergi ke Jerman :“) nyesek sekali, surat sponsor itu tidak ada kabarnya, dan visa gak bisa diproses..walaupun semua dokumen sudah lengkap kap kap...
Jadi mikir, idup gak punya uang itu emang nyakitin banget, kayak gimana ya… Mau apa-apa susah...
Ngandelin harapan sama orang lain, nyatanya bisa bikin kecewa kayak gini. Bener-bener gak bisa gantungin harapan ke orang lain. Ini bener-bener kejadian paling nyesek di tahun 2018 kemarin, sedeket itu loh ke Jerman dan kita gak bisa pergi...
Yak mentemen, ini bagian dari perjalanan nemenin suami dari nol sih :) sekarang kita emang gak punya apa-apa secara materi. Kerjaan juga masih belum bagus. Tapi saya yakin, suami saya bisa sukses dimasa depan. Dia bisa jadi orang yang banyak uang wkwkwkw,  karirnya di pekerjaan dan pendidikan secerah itu..InshaAllah...
Dan pergi keluar Turki dan Indonesia tetep jadi goal kita. Kita yakin bisa pergi dan tinggal disana suatu hari nanti. Buat kalian pejuang dari nol. Kita sama-sama ya..sama-sama untuk selalu berusaha bangkit dari keterpurukan finansial wkwkk. Jangan berhenti berjuang, isnhaAllah masa depan kita cerah hehehe.
Ya gitu aja sih, bener-bener iseng ngeluarin uneg-uneg aja nih saya. Makasih loh buat yang gabut bacain tulisan penuh keluh kesah ini..
Doain ya :)
Iyi gunler.
Mrs. Kursun

NO ONE HAS PERFECT LIFE

Intermezzo
*Open Instagram
Kisah pertama: Scroll foto, lihat teman update foto bahagia sama pasangannya. Dalam hati berujar “Hidupnya sungguh sempurna, diberi suami yang baik, hidup mapan, mau apa saja tinggal bilang suaminya pasti dikabulkan”  kemudian melihat kehidupan sendiri yang penuh dengan kesedihan, hidup serba pas-pasan.
Kisah kedua: Kemudian scroll foto lagi, lihat teman yang lain pergi jalan-jalan ke luar negri tiap bulan. Dalam hati berujar, “beruntungnya si A, tiap bulan selalu pergi jalan-jalan”. Kemudian melihat kehidupan sendiri yang penuh dengan cerita kurang piknik.
Saya yakin kalian pasti pernah mengalami momen ini ketika melihat isi “dunia” orang lain di media sosialnya. Menganggap kehidupan kita paling nelangsa di jagad bima sakti ini. Padahal yang kita tidak tahu, teman di cerita pertama juga memiliki kisah pilu. Mereka harus berkeja banting tulang sebelum memiliki kehidupan mapan seperti sekarang. Sulitnya memiliki momongan membuat mereka harus sedih setiap kali melihat kawan yang lebih dahulu dikaruniai. Sedangkan teman di cerita kedua harus menahan malu pada keluarga karena masih saja belum menikah di usia yang sudah kelewat matang.
No one has perfect life :)

Banyak hal yang membuat saya merasa kehidupan saya sangat buruk. Setahun belakangan ini saya merasa Allah sangat tidak adil pada keluarga kecil kami. Tidak jarang kami berdua bertengkar karena saya yang tidak siap dengan kondisi kehidupan saat ini. Saya lihat raut wajah suami, saya tidak bisa mengartikan garis matanya. Bisa saja kecewa dengan sikap saya, bisa juga kecewa karena keputusannya di masa lalu. Kami mengutuk kehidupan kami.  
Entah rencana apa yang Allah sudah persiapkan untuk kami berdua. Yang jelas, kami berdua masih sangat penasaran. Kehidupan memang tidak pernah bisa ditebak, sometimes up and sometimes down.
Selama masa penasaran dengan rencana Allah, kami selalu dihadapkan dengan kejadian-kejadian tak terduga yang membuat kami sadar bahwa setiap orang tidak memiliki kehidupan yang sempurna. Jujur, saya pernah merasakan iri ketika melihat teman yang sudah terlebih dahulu dikaruniai keturunan, apalagi jika dilihat kehidupan mereka sangat sempurna. Tapi yang saya tidak ketahui, kawan saya memiliki suami yang sangat keras adatnya. Sifat keras yang tidak dimiliki suami saya. Dia memang berbeda dengan orang Turki kebanyakan. Beberapa dari pria Turki tidak mengenal istilah demokratis dalam berumah tangga. Sedangkan suami saya termasuk orang yang cukup demokratis. Dia selalu bertanya pendapat saya ketika akan melakukan sesuatu, walau terkadang diwarnai dengan perdebatan kecil. Seketika saya merasa bersyukur dengan kehidupan saya.
Pernah juga saya iri dengan kehidupan kawan yang terlihat tanpa konflik. Mendapat kehidupan yang mapan, tidak seperti kami yang harus meniti kehidupan rumah tangga dari nol. Ditambah mereka juga sudah memiliki buah hati yang lucu-lucu.  Ternyata yang saya tidak tahu, suami kawan saya adalah orang yang super sibuk bahkan tidak memiliki waktu sama sekali untuk berkomunikasi langsung dengan kawan saya. Mereka berdua berkomunikasi hanya melalui telepon karena sang suami sangat sibuk sekali. Tidak ada kisah “curhat sebelum tidur” pada suami untuk kawan saya. Saya merasa sangat beruntung bisa berkomunikasi setiap saat dengan suami.
Suami kawan sayapun ternyata tidak punya waktu banyak untuk buah hatinya. Bukannya tidak sayang, tapi karena tidak memiliki waktu luang untuk sekedar bercengkrama dengan anak-anak. Selalu kembali ke rumah ketika anak sudah tidur dan bangun ketika anak sudah berangkat ke sekolah.
Belum lagi, sang suami tidak pernah sekalipun membantu kawan saya dalam urusan remeh temeh di dapur. Bahkan untuk sekedar mencuci piring bekas makan saja seperti haram hukumnya. Lagi-lagi saya merasa beruntung karena suami saya selalu ikut berpartisipasi dalam urusan tersebut. Contohnya, kami berdua selalu berbagi tugas ketika bersih-bersih di rumah. Saya bagian membersihkan ruang tamu dan dapur, suami bagian membersihkan kompor dan toilet. Kami kerjakan berdua, bersama-sama. Bahkan tak jarang kami memasak makan malam berudua, tidak peduli saat itu dia sedang kelelahan atau tidak. Hal yang jarang sekali dilakukan pria Turki hehehe.
Begitu banyak ketidaksyukuran yang saya rasakan. Betapa Allah sangat baik dan sempurna mengatur hidup kami. Saya percaya kehidupan kami berdua akan baik-baik saja di masa depan. Allah sebaik-baiknya pengatur kehidupan bukan? :)
No one has perfect life, included Raisa :D
Hayo ngaku, pasti pernah ngerasa hidup Raisa super sempurna ya? :P Pasti ada hal dibalik layar kehidupan Raisa yang kita engga tau dan tentunya membuat kita bersyukur dengan kehidupan kita. Mulai hari ini kita harus lebih banyak bersyukur, inshaAllah Allah akan mencukupkan nikmat kita :)


image
No one has perfect husband, but u are the best husband for me 
Dokumentasi pribadi





image
Kapan mantai lagi pak? :D
Dokumetasi pribadi

AKU MENIKAHIMU KARENA AKU PERCAYA

Berabad-abad sudah berlalu dan akhirnya mulai apdet blog lagi fyuh! :D
Judul ini terinspirasi dari tulisannya Mas Fahd Pahdepie yang judulnya “Dari Ramalan Seorang Istri). Dijamin deh yang udah nikah, kalo baca bukunya si bapak ini bakalan baper banget :D. tergelitik untuk menulis hal yang serupa tapi tak sama.
So, apa kabar kami hari ini?
Kami tetep sama tapi With different condition, yep we still (stuck) in Indonesia. Already one year, I missed the smell of maple leaves in autumn! Ah, how I miss my home!
Banyak hal terjadi, kebanyakan sih diluar dari rencana kami berdua. Sebenernya masih (dan akan) terus penasaran sama jalan skenario yang Allah udah tulis buat kami. Berliku dan penuh dengan kejutan. Kadang bahkan terkejut sampe nangis-nangis (eaaa). Tapi kami percaya, skenario tersebut merupakan skenario terbaik dari Allah untuk keluarga kami.
Sudah setahun lebih juga suami kehilangan pekerjaannya sebagai seorang guru karena kasus kudeta kemarin. Kabar kuliah masternya juga gak jelas, hidup kami bagai terkatung-katung di perahu saat badai menerjang. Akhirnya suami saya back to basic sebagai penerjemah bahasa yang notabene kerjanya masih freelance dan kadang dibayar super duper telat, tapi Alhamdulillah selama ini saya tidak pernah merasa kekurangan. Allah selalu mencukupkan rezeki kami bahkan disaat nikmat kami direbut paksa oleh orang-orang dzalim (hehehe). Bukan tidak mungkin suatu saat Allah akan mengambil alih nikmat orang-orang dzalim tersebut (AAMIIN BANGET).
Umur pernikahan kami sudah hampir masuk usia tiga tahun. Kami masih belajar, kalo ibarat manusia, kami masih bayi banget. Seperti itulah keadaan kami sekarang, To be honest, pernikahan kami juga mulai terasa berguncang. Rasanya mulai berat mengarungi rumah tangga (eaaaa). Engga sekali dua kali kami ngerasa gabisa jadi apa-apa, terutama suami saya. Wajar rasanya kalau dia yang ngerasa paling pesimis diantara kami berdua, karena dia adalah kepala rumah tangga yang punya tanggung jawab besar untuk keluarga.
Ketika suami merasa gagal dalam semua hal, saya suka isengin suami sambil bilang “One day you will be Lecturer, and Turkey will invite you as professional lecturer. Believe me, they will need you”. Akhirnya saya bisa lihat senyum suami setelah saya bilang hal tersebut, sebuah harapan sekaligus doa dari seorang istri yang masih jauh dari kata soleha. Bukan bermaksud meramal masa depan, saya hanya yakin di masa depan suami saya akan menjadi orang sukses, kehidupan keluarga kami akan jauh jauh lebih baik dari hari ini. Menikah di usia muda memang beginilah tantangannya, harus siap gagal di beberapa hal. Engga Cuma sekali dua kali suami saya gagal apply untuk master di Luar negri, ada satu yang gagal karena saya sendiri tidak ridho suami daftar kesana (hahahaa, so semua juga berjalan karena ridho istri *eh). Tapi saya yakin, suatu hari ada salah satu universitas terbaik di dunia yang bisa menerima suami saya, lihat saja *eh Aamiin.
Saya berkata demikian karena saya yakin dan tahu betul bahwa suami saya mempunyai kemampuan. Tugas saya hanya meyakinkan dan berdoa agar suami bisa mencapai semua mimpinya.
Kami berdua mulai menulis target kehidupan dalam satu tahun kedepan. Apa saja yang akan kami lakukan, Negara mana saja yang kemungkinan bisa memberikan kehidupan yang lebih layak untuk kami, pekerjaan apa yang sekiranya cocok untuk kami dan bidang apa yang benar-benar bisa suami saya tekuni dalam-dalam. Kami rinci semua dalam buku, kalau tidak begitu kami sendiri akan lupa target apa saja yang harus kami capai.. Saya sendiri terbiasa menulis mimpi-mimpi sejak masih duduk di bangku sekolah, jadi saya bisa melihat kembali mimpi apa saja yang sudah saya capai. Konsep seperti ini saya rasa cocok diterapkan juga dalam kehidupan rumah tangga kami. 
Kami mulai bergerak sesuai dengan target-target yang kami sepakati untuk dicapai dalam bulan ini. 5 tahun dari sekarang saya akan kembali melihat tulisan ini dan melihat apakah kami sudah mencapai tujuan yang kami tulis tahun ini atau belum.
Untuk mencapai kesana, kami butuh komitmen, kerja keras, kerja sama dan tentunya doa. Dan selama perjalanan menuju sana, tentunya akan banyak cerita. Kami berdua harus siap dengan segala tantangan yang menanti kami didepan kelak.
Untuk yang menikah muda dan mengalami dilemma yang sama seperti kami, kami ingin bilang “you are not alone”. Kami juga sedang dititik ini, inilah seni menikah muda, apalagi kalau suami kita juga berusia tidak jauh dari kita dan belum memiliki pekerjaan yang tetap. Untuk belum dikaruniai momongan juga jangan sedih, kami juga sedang berada dititik ini juga hehehe (apasih ganyambung banget hehehe). Manfaatkan waktu kalian untuk melakukan pencapaian terbaik dalam hidup, inshaaAllah kalau sudah waktunya, anak akan datang seiring dengan mulai stabilnya kehidupan kita.
So, dengan bismillah kami mulai perjalanan hidup ini, inshaaAllah kehidupan yang lebih baik menanti didepan kami.
Aku menikahimu karena aku percaya kalau kamu bisa :)

image
pict by Addienullah 

Padeglang, 25 Agustus 2017

JANGAN NIKAH SAMA ORANG TURKI..KALAU.. (BAGIAN 1)



Inhale, exhale...
Akhirnya bisa kembali ke dunia literasi setelah sekian lama tidak aktif. Rindu? Ow sudah pasti, Cuma ya sayangnya saya terlalu sibuk dengan kehidupan dunia lain (astagfirullah ukhti, main ke dunia mana??). Bukan, bukan dunia jin..tapi dunia kemalasan (mueheheheh :p). bercanda ketang, eh tapi ada sih malesnya. Sebenarnya (yang lain) saya sedang fokus ke dunia vlog dan hobi (melukis cat air), jadi kegiatan menulis saya ’’agak dikesampingkan’’. Saya tidak benar-benar vacum menulis sebenarnya, belakangan ini saya lebih aktif menuliskan segala bentuk uneg-uneg dan inspirasi saya di instagram. Saya sering membuka diskusi terbuka perihal pernikahan campur, berasa psikolog pernikahan :D

Dunia pernikahan Indonesia-Turki memang lagi rame dan jadi trend akhir-akhir ini. Keinginan saya untuk menjadi pasangan kawin campur yang ’’Ekslusif dan unik“  pupus sudah wkwkkwk (lah siape gue malihhhh). Kalau dulu, pasangan campur Indonesia-Turki  masih kebilang jarang (ya walaupun sebenernya udah lumayan banyak). Cuma ya rata-rata orang Indonesia banyaknya nikah sama WN Arab, US atau Eropa gitu, kalau sama orang Turki kebilangnya masih jarang.

Fenomena ini gak jauh karena pesatnya perkembangan teknologi dan ramainya variasi sosial media. Ow, salah satunya youtube. Zaman dimana apapun bisa direkam, masuk youtube dan jadi uang (aku cinta uang wkwkwk). Nah, mulai banyak juga nih pasangan campur Indonesia Turki  yang berlomba-lomba membuat konten youtube (baik yang sudah menikah maupun yang masih pacaran). Yaa sebenernya sah-sah aja sih, Cuma kadang mereka kurang bisa ngerem apa yang pantas dibagikan dan apa yang tidak. Duh, mungkin saya aja yang pikirannya terlalu kolot kali ya. Apa yang saya rasa engga pantas ya bisa jadi pantas untuk orang lain. Karena ya balik lagi, standar tiap orang berbeda. 
Hal yang mereka gak sadari, ada sebuah ’’anomali’’ yang mereka ciptakan dari kegiatan vlogging tersebut. Semakin banyak orang Indonesia yang akhirnya punya keinginan bersuamikan orang Turki, mereka ikut ’’memburu’’ lelaki Turki dihampir semua aplikasi dating dan sosial media. Menikah dengan lelaki Turki menjadi goal bagi sebagian perempuan Indonesia. Penggambaran lelaki Turki yang nyaris sempurna nyatanya membuat mereka gelap mata. Saya harus menikah dengan lelaki Turki, bagaimanapun caranya.  

Sebenarnya, saya dan suami ya seneng-seneng aja sih kalau akhirnya banyak perempuan Indonesia yang menikah dengan orang Turki. Jadi nanti akan banyak teman seperjuangan di tanah rantau. Tapi disisi lain saya juga dengar banyak kasus gak ngenakin dari pernikahan campur Indonesia-Turki. Gak ngerti deh, saya kayak berasa prikolog pernikahan. Beberapa teman saya percaya membagikan kisah pernikahan ‘kurang’ beruntung mereka untuk saya bagikan ke teman-teman sekalian. Bahwa, pernikahan yang gagal itu ada. Terhitung ada lebih dari 5 teman seperjuangan saya yang akhirnya berkasus dengan suaminya :”) Life :”) Nasip :”)

Disini, saya Cuma mau ngebagiin opini pribadi tentang menikah dengan orang Turki. Judulnya serem sih, saya ngambil judul “JANGAN NIKAH SAMA ORANG TURKI” biar kalian baca gitu. Karena kan jadi kepo, ‘loh, ada apa emang sama orang Turki?’ begindang. Bikin kepo aja dulu, kalau udah kepo kann akhirnya ada usaha pengen nyari tau. Nah, sebenernya tulisan ini juga hasil adaptasi konten opini youtube kita. Sengaja dibikin 2 bagian biar samaan kayak youtube kita muehehehe.

Kita Cuma negesin aja, kalau ini murni pendapat sendiri dan beberapa teman seperjuangan yang mengamini apa yang saya rasakan tentang fenomena ‘‘ngebetnya cewek Indonesia bersuamikan cowok Turki“. Kalau misalnya ada yang mau nambahin, bisa komentar dibawah yak.  Wadaw, intronya panjang bener..efek lama kagak nulis ya beginilah, terlalu banyak kata yang ingin diungkapkan keluar :D

Bahique, kita mulai aja ya (lah dari tadi kagak mulai-mulai -_-). Ges, kita mau ngasih tau kalian buat gak nikah sama orang Turki kalau kalian punya alasan-asalan ini...

  • JANGAN NIKAH SAMA ORANG TURKI, KALAU kalian Cuma mau ikut-ikutan orang lain. Misalnya, kalian liat vlogger-vlogger campuran Indo-Turki yang keliatannya bahagia banget gitu idupnya, terus kalian kepengen juga kayak mereka. Nikah itu bukan ‘coba-coba’ gesss. Kalau di agama islam, nikah itu ibadah paling panjang karena dilakukan seumur hidup. Kehidupan orang lain itu beda-beda, belum tentu ketika kalian nikah sama orang Turki, kehidupan kalian langsung plek sama kayak ‘orang-orang’. Saking kepengennya nikah sama orang Turki, jadi membabi buta nyarinya. Ya gak peduli juga backround si calon gimana, asalkan Turki dan ganteng. Yakali nikah Cuma ngandelin ganteng doang.

Hey Marimar, cari calon suami itu kudu teliti. Kalian jangan asal comot calon suami dari medsos. Jangan juga kebuai sama muka gantengnya. Pokoknya jangan gampang celamitan sama idup orang. Belum tentu kehidupan orang lain cocok buat kita. Begitulah intinya.. Lagian, gak semua orang Turki itu baik. Ya untung kalau kalian nemunya yang baik, kalau yang engga gimana ? terus terlanjur nikah, pas mau keluar dari toxic relationship kalian gabisa. Kalau udah gitu, yang rugi siapa ? kalian juga akhirnya. Panutan kalian bakal bantuin kalian gak kalau kalian ada di posisi itu ? boro-boro, iris kuping gajah kalau mereka bantuin kalian.

Janganlah terlalu terobsesi sama cowok Turki. Daripada begitu, mendingan kalian tingkatkan kualitas diri kalian. inshaAllah jodoh juga ngikutin kalian nantinya. Apa ya, ungkapan jodoh itu cerminan diri sih bener adanya. Jadi kalau mau dapat jodoh yang kualitas dirinya warbyaza, ya kalian juga warbyaza. Kalau kualitas dirinya kawe-kawe club, ya calonnya juga gak jauh dari kawe-kawe club jugak.

  • JANGAN NIKAH SAMA ORANG TURKI, KALAU kalian modal nekad doang. Contohnya, kalian mau aja diajak nikah sama cowok Turki yang baru kalian kenal itungan hari. Ebuset, langsung tiba-tiba yakin kalau itu jodoh kalian? Dalam hitungan hari loh. Ya sebenernya saya percaya aja sama cinta pada pandangan pertama, tapi gak gitu juga sih.  Ya boleh aja optimis kalau si cowok jadi jodoh kalian, tapi kalian kudu realistis juga. Mereka berdua kudu imbang, jangan kegedean optimisnya, takutnya kalian dikhianati rasa optimis kalian sendiri..sakit loh. Kzl.
  • JANGAN NIKAH SAMA ORANG TURKI, KALAU ekspektasi kalian tentang cowok Turki tinggi banget. Bukannya apa-apa, takutnya kalau gak sesuai ya kalian sendiri yang sakit. Jangan terlalu terbuai sama deskripsi super sempurna tentang cowok Turki yang kalian baca atau lihat. Sebagian deskripsi manisnya ya ada yang bener, tapi ada juga yang engga.
  • JANGAN NIKAH SAMA ORANG TURKI, KALAU kalian cuma mau naikin gengsi doang. Saya sedih loh. Jadi kemarin-kemarin sempet ada akun instagram serba-serbi Turki yang angkat soal kisah cinta Indo-Turki. Nah, mereka buat diskusi terbuka gitu soal ”kenapa cewek Indonesia tertarik sama cowok Turki?‘‘, nah ada loh satu orang yang bilang kalau nikah sama WNA itu kayak semacam naikin derajat diri gitu, gengsi jadi naik kalau punya suami WNA (termasuk WNA Turki). Sebagai perempuan Indonesia, kok rasanya kayak diinjek-injek aja inih hati saya. Seakan derajat diri perempuan Indonesia segitu rendahnya sampe harus nikah sama WNA buat naikinnya. Please ya cewek-cewek, kalau mau cari alasan nikah sama WNA coba dibikin rada elegan dikit gitu jawabannya.
  • JANGAN NIKAH SAMA ORANG TURKI, KALAU kalian Cuma pengen keluar dari Indonesia aja. Jadi kayak manfaatin si cowok Turki buat bawa kalian keluar dari Indonesia. Percayalah, kadang Indonesia bisa jauh lebih aman dan menyenangkan dibanding Turki. Jadi alasan nikah sama WNA Cuma kepengen dapet jalan keluar dari Indonesia rasanya masih kurang elegan sih..

Yaaa, begitulah gess. Ini masih ada terusannya yak. Cuma karena ngikutin vlog aja jadi dibikin 5 alasan dulu. Nanti lanjut yaa hahaha, udah rada stuck juga nulis yang ini. Kepengen nulis hal lain juga soalnya, niatnya dalam satu hari ini saya update dua tulisan. Mumpung masih seger, jadi kudu cepet-cepet dituangkan dalam tulisan. Nanti cuap-cuap kesimpulannya pas dibagian 2 aja ya ges, biar jos gandos hehehe. Takutnya eykeu terlalu banyak cuap sana dan cuap sini ni di blog :D
Selamat menimbang-nimbang..
İyi Günler!
Mrs. Kursun.