Aku dan separuh agamaku

Aku dan separuh agamaku

Jumat, 15 November 2019

KEJADIAN PALING NYESEK DITAHUN 2018

Ohalo ges, lagi semangat nulis ni hahaha. Dari tulisan jangan nikah sama orang Turki, saya langsung lanjut ke tulisan ini. Rada melow sedikit sih, karena rasanya si hati masih ada luka-luka bernanah gitu : ‘)
Jadi kayak mikir, idup gak punya uang tuh serba susah. Mau apa-apa susah, bahkan mau nerusin sekolah juga susah. Gini ceritanya ges, saya sama suami kan emang ada goal lain gitu. Kita berdua kepengen bisa go abroad, hidup di Negara lain selain Turki dan Indonesia. Negara tujuan kita adalah US, Kanada, dan Negara-negara Eropa. Sejak tahun 2017 kita berdua (sebenernya suami doang sih wkwkwkwk) aktif buat daftar-daftar ke tiap universitas di luar negri. Suami ngambil jurusan Asian Studies dan interpreting and translating gitu (beda-beda kampus). Oya, sebenernya suami masih mahasiswa S2 di ODTU. Doi ambil s2 Asian studies disana, tapi doi mutusin buat cuti karena kita ada sesuatu yang mesti kita dilakukan di Indonesia. kalau balik ke Turki ya doi masih bisa sih nerusin kuliahnya yang belum rampung. Cuma ya kalau doi keterima kuliah di Negara lain, yang di ODTU mau dilepas.  
Alkisah, kita udah hampir hopeless gitu pas daftar kesana kemari. Lamaran ke Kanada semuanya ditolak. Terus akhirnya kita pindah haluan buat daftar ke Jerman. Ada banyak pertimbangan kenapa kita pilih Jerman, salah satunya yak karena pendidikan di Jerman gratis buat semua orang termasuk WNA. Cumaaaa, biaya hidupnya tinggi disana.
Ada beberapa kampus yang jadi target suami. Kali ini suami ambilnya seragam, jurusan Asian studies. Rada lama nunggu pengumumannya.. Sampai pada suatu pagi, saya cek email di HP suami...
Ada email dari Hamburg Universiti, dan ALHAMDULILLAH suami lolos S2 disana. Langsung dong saya teriak dan bangunin suami. Cuma dia kayak yang kurang semangat, kayak ya seneng sih tapi rada ada yang dipikirin gitu. 
Tapi kita berdua tetep ngurus dokumen sana sini ya buat pelengkap keberangkatan suami ke Jerman. Suami sempet ngontak omnya buat jadi sponsornya di Jerman, doi daftar mandiri gak pake beasiswa. Beasiswa buat orang Turki itu gak banyak. Jadi ya mau gak mau kita daftar mandiri dan minta bantuan orang lain. Cumaaa, omnya waktu itu mudik ke Turki, jadi ngurus surat sponsornya rada gak maksimal. Saya udah khawatir sih, tapi masih optimis suami bisa berangkat ke Jerman walaupun waktunya mepet banget. Cara kedua ya kita harus ada uang deposit yang disimpen di BANK JERMAN sebesar 8000 euro, diendapkan selama satu tahun. Yang ini kita gasanggup, uang dari mana cobak ???
Semua dokumen penunjang bener-bener udah lengkap, sampe legalisir ijazah juga. Bahkan dokumen transkrip nilai dari univ lama udah dikirim semua ke Jerman. Suami dapet email dari kampus, bahwa dia resmi jadi mahasiswa di Hamburg Uni. Saya bahagia banget waktu itu, bangga banget sama suami. Akhirnya perjalanan daftar dari 2017 berbuah juga...
Tapi masalah gak berhenti sampe situ. Kita masih nunggu keputusan surat sponsor dari omnya suami. Sebenernya kepengurusan surat sponsor itu gak terlalu lama. Eh beda-beda gitu tiap kota, di Ausburg tempatnya temen saya, ngurus surat sponsor Cuma butuh waktu satu hari. Nah kebetulan (emang lagi apes aja kita) ngurus surat sponsor di Koln (kota omnya Mustafa) katanya butuh waktu sekitar 2 minggu. Kelamaan banget, dan belum tentu diterima. Saya sih yakin kalau soal diterima, kerjaan om Mustafa juga bagus, doi lawyer di Jerman..mampulah ya buat jadi sponsor.  
Kita nunggu, nunggu dan nunggu..
Sempet masih ada harapan kalau suami paling telat masuk kelas selama 2 mingguan karena masalah visa. Tapi pada akhirnya, kita telat untuk pergi ke Jerman :“) nyesek sekali, surat sponsor itu tidak ada kabarnya, dan visa gak bisa diproses..walaupun semua dokumen sudah lengkap kap kap...
Jadi mikir, idup gak punya uang itu emang nyakitin banget, kayak gimana ya… Mau apa-apa susah...
Ngandelin harapan sama orang lain, nyatanya bisa bikin kecewa kayak gini. Bener-bener gak bisa gantungin harapan ke orang lain. Ini bener-bener kejadian paling nyesek di tahun 2018 kemarin, sedeket itu loh ke Jerman dan kita gak bisa pergi...
Yak mentemen, ini bagian dari perjalanan nemenin suami dari nol sih :) sekarang kita emang gak punya apa-apa secara materi. Kerjaan juga masih belum bagus. Tapi saya yakin, suami saya bisa sukses dimasa depan. Dia bisa jadi orang yang banyak uang wkwkwkw,  karirnya di pekerjaan dan pendidikan secerah itu..InshaAllah...
Dan pergi keluar Turki dan Indonesia tetep jadi goal kita. Kita yakin bisa pergi dan tinggal disana suatu hari nanti. Buat kalian pejuang dari nol. Kita sama-sama ya..sama-sama untuk selalu berusaha bangkit dari keterpurukan finansial wkwkk. Jangan berhenti berjuang, isnhaAllah masa depan kita cerah hehehe.
Ya gitu aja sih, bener-bener iseng ngeluarin uneg-uneg aja nih saya. Makasih loh buat yang gabut bacain tulisan penuh keluh kesah ini..
Doain ya :)
Iyi gunler.
Mrs. Kursun

NO ONE HAS PERFECT LIFE

Intermezzo
*Open Instagram
Kisah pertama: Scroll foto, lihat teman update foto bahagia sama pasangannya. Dalam hati berujar “Hidupnya sungguh sempurna, diberi suami yang baik, hidup mapan, mau apa saja tinggal bilang suaminya pasti dikabulkan”  kemudian melihat kehidupan sendiri yang penuh dengan kesedihan, hidup serba pas-pasan.
Kisah kedua: Kemudian scroll foto lagi, lihat teman yang lain pergi jalan-jalan ke luar negri tiap bulan. Dalam hati berujar, “beruntungnya si A, tiap bulan selalu pergi jalan-jalan”. Kemudian melihat kehidupan sendiri yang penuh dengan cerita kurang piknik.
Saya yakin kalian pasti pernah mengalami momen ini ketika melihat isi “dunia” orang lain di media sosialnya. Menganggap kehidupan kita paling nelangsa di jagad bima sakti ini. Padahal yang kita tidak tahu, teman di cerita pertama juga memiliki kisah pilu. Mereka harus berkeja banting tulang sebelum memiliki kehidupan mapan seperti sekarang. Sulitnya memiliki momongan membuat mereka harus sedih setiap kali melihat kawan yang lebih dahulu dikaruniai. Sedangkan teman di cerita kedua harus menahan malu pada keluarga karena masih saja belum menikah di usia yang sudah kelewat matang.
No one has perfect life :)

Banyak hal yang membuat saya merasa kehidupan saya sangat buruk. Setahun belakangan ini saya merasa Allah sangat tidak adil pada keluarga kecil kami. Tidak jarang kami berdua bertengkar karena saya yang tidak siap dengan kondisi kehidupan saat ini. Saya lihat raut wajah suami, saya tidak bisa mengartikan garis matanya. Bisa saja kecewa dengan sikap saya, bisa juga kecewa karena keputusannya di masa lalu. Kami mengutuk kehidupan kami.  
Entah rencana apa yang Allah sudah persiapkan untuk kami berdua. Yang jelas, kami berdua masih sangat penasaran. Kehidupan memang tidak pernah bisa ditebak, sometimes up and sometimes down.
Selama masa penasaran dengan rencana Allah, kami selalu dihadapkan dengan kejadian-kejadian tak terduga yang membuat kami sadar bahwa setiap orang tidak memiliki kehidupan yang sempurna. Jujur, saya pernah merasakan iri ketika melihat teman yang sudah terlebih dahulu dikaruniai keturunan, apalagi jika dilihat kehidupan mereka sangat sempurna. Tapi yang saya tidak ketahui, kawan saya memiliki suami yang sangat keras adatnya. Sifat keras yang tidak dimiliki suami saya. Dia memang berbeda dengan orang Turki kebanyakan. Beberapa dari pria Turki tidak mengenal istilah demokratis dalam berumah tangga. Sedangkan suami saya termasuk orang yang cukup demokratis. Dia selalu bertanya pendapat saya ketika akan melakukan sesuatu, walau terkadang diwarnai dengan perdebatan kecil. Seketika saya merasa bersyukur dengan kehidupan saya.
Pernah juga saya iri dengan kehidupan kawan yang terlihat tanpa konflik. Mendapat kehidupan yang mapan, tidak seperti kami yang harus meniti kehidupan rumah tangga dari nol. Ditambah mereka juga sudah memiliki buah hati yang lucu-lucu.  Ternyata yang saya tidak tahu, suami kawan saya adalah orang yang super sibuk bahkan tidak memiliki waktu sama sekali untuk berkomunikasi langsung dengan kawan saya. Mereka berdua berkomunikasi hanya melalui telepon karena sang suami sangat sibuk sekali. Tidak ada kisah “curhat sebelum tidur” pada suami untuk kawan saya. Saya merasa sangat beruntung bisa berkomunikasi setiap saat dengan suami.
Suami kawan sayapun ternyata tidak punya waktu banyak untuk buah hatinya. Bukannya tidak sayang, tapi karena tidak memiliki waktu luang untuk sekedar bercengkrama dengan anak-anak. Selalu kembali ke rumah ketika anak sudah tidur dan bangun ketika anak sudah berangkat ke sekolah.
Belum lagi, sang suami tidak pernah sekalipun membantu kawan saya dalam urusan remeh temeh di dapur. Bahkan untuk sekedar mencuci piring bekas makan saja seperti haram hukumnya. Lagi-lagi saya merasa beruntung karena suami saya selalu ikut berpartisipasi dalam urusan tersebut. Contohnya, kami berdua selalu berbagi tugas ketika bersih-bersih di rumah. Saya bagian membersihkan ruang tamu dan dapur, suami bagian membersihkan kompor dan toilet. Kami kerjakan berdua, bersama-sama. Bahkan tak jarang kami memasak makan malam berudua, tidak peduli saat itu dia sedang kelelahan atau tidak. Hal yang jarang sekali dilakukan pria Turki hehehe.
Begitu banyak ketidaksyukuran yang saya rasakan. Betapa Allah sangat baik dan sempurna mengatur hidup kami. Saya percaya kehidupan kami berdua akan baik-baik saja di masa depan. Allah sebaik-baiknya pengatur kehidupan bukan? :)
No one has perfect life, included Raisa :D
Hayo ngaku, pasti pernah ngerasa hidup Raisa super sempurna ya? :P Pasti ada hal dibalik layar kehidupan Raisa yang kita engga tau dan tentunya membuat kita bersyukur dengan kehidupan kita. Mulai hari ini kita harus lebih banyak bersyukur, inshaAllah Allah akan mencukupkan nikmat kita :)


image
No one has perfect husband, but u are the best husband for me 
Dokumentasi pribadi





image
Kapan mantai lagi pak? :D
Dokumetasi pribadi

AKU MENIKAHIMU KARENA AKU PERCAYA

Berabad-abad sudah berlalu dan akhirnya mulai apdet blog lagi fyuh! :D
Judul ini terinspirasi dari tulisannya Mas Fahd Pahdepie yang judulnya “Dari Ramalan Seorang Istri). Dijamin deh yang udah nikah, kalo baca bukunya si bapak ini bakalan baper banget :D. tergelitik untuk menulis hal yang serupa tapi tak sama.
So, apa kabar kami hari ini?
Kami tetep sama tapi With different condition, yep we still (stuck) in Indonesia. Already one year, I missed the smell of maple leaves in autumn! Ah, how I miss my home!
Banyak hal terjadi, kebanyakan sih diluar dari rencana kami berdua. Sebenernya masih (dan akan) terus penasaran sama jalan skenario yang Allah udah tulis buat kami. Berliku dan penuh dengan kejutan. Kadang bahkan terkejut sampe nangis-nangis (eaaa). Tapi kami percaya, skenario tersebut merupakan skenario terbaik dari Allah untuk keluarga kami.
Sudah setahun lebih juga suami kehilangan pekerjaannya sebagai seorang guru karena kasus kudeta kemarin. Kabar kuliah masternya juga gak jelas, hidup kami bagai terkatung-katung di perahu saat badai menerjang. Akhirnya suami saya back to basic sebagai penerjemah bahasa yang notabene kerjanya masih freelance dan kadang dibayar super duper telat, tapi Alhamdulillah selama ini saya tidak pernah merasa kekurangan. Allah selalu mencukupkan rezeki kami bahkan disaat nikmat kami direbut paksa oleh orang-orang dzalim (hehehe). Bukan tidak mungkin suatu saat Allah akan mengambil alih nikmat orang-orang dzalim tersebut (AAMIIN BANGET).
Umur pernikahan kami sudah hampir masuk usia tiga tahun. Kami masih belajar, kalo ibarat manusia, kami masih bayi banget. Seperti itulah keadaan kami sekarang, To be honest, pernikahan kami juga mulai terasa berguncang. Rasanya mulai berat mengarungi rumah tangga (eaaaa). Engga sekali dua kali kami ngerasa gabisa jadi apa-apa, terutama suami saya. Wajar rasanya kalau dia yang ngerasa paling pesimis diantara kami berdua, karena dia adalah kepala rumah tangga yang punya tanggung jawab besar untuk keluarga.
Ketika suami merasa gagal dalam semua hal, saya suka isengin suami sambil bilang “One day you will be Lecturer, and Turkey will invite you as professional lecturer. Believe me, they will need you”. Akhirnya saya bisa lihat senyum suami setelah saya bilang hal tersebut, sebuah harapan sekaligus doa dari seorang istri yang masih jauh dari kata soleha. Bukan bermaksud meramal masa depan, saya hanya yakin di masa depan suami saya akan menjadi orang sukses, kehidupan keluarga kami akan jauh jauh lebih baik dari hari ini. Menikah di usia muda memang beginilah tantangannya, harus siap gagal di beberapa hal. Engga Cuma sekali dua kali suami saya gagal apply untuk master di Luar negri, ada satu yang gagal karena saya sendiri tidak ridho suami daftar kesana (hahahaa, so semua juga berjalan karena ridho istri *eh). Tapi saya yakin, suatu hari ada salah satu universitas terbaik di dunia yang bisa menerima suami saya, lihat saja *eh Aamiin.
Saya berkata demikian karena saya yakin dan tahu betul bahwa suami saya mempunyai kemampuan. Tugas saya hanya meyakinkan dan berdoa agar suami bisa mencapai semua mimpinya.
Kami berdua mulai menulis target kehidupan dalam satu tahun kedepan. Apa saja yang akan kami lakukan, Negara mana saja yang kemungkinan bisa memberikan kehidupan yang lebih layak untuk kami, pekerjaan apa yang sekiranya cocok untuk kami dan bidang apa yang benar-benar bisa suami saya tekuni dalam-dalam. Kami rinci semua dalam buku, kalau tidak begitu kami sendiri akan lupa target apa saja yang harus kami capai.. Saya sendiri terbiasa menulis mimpi-mimpi sejak masih duduk di bangku sekolah, jadi saya bisa melihat kembali mimpi apa saja yang sudah saya capai. Konsep seperti ini saya rasa cocok diterapkan juga dalam kehidupan rumah tangga kami. 
Kami mulai bergerak sesuai dengan target-target yang kami sepakati untuk dicapai dalam bulan ini. 5 tahun dari sekarang saya akan kembali melihat tulisan ini dan melihat apakah kami sudah mencapai tujuan yang kami tulis tahun ini atau belum.
Untuk mencapai kesana, kami butuh komitmen, kerja keras, kerja sama dan tentunya doa. Dan selama perjalanan menuju sana, tentunya akan banyak cerita. Kami berdua harus siap dengan segala tantangan yang menanti kami didepan kelak.
Untuk yang menikah muda dan mengalami dilemma yang sama seperti kami, kami ingin bilang “you are not alone”. Kami juga sedang dititik ini, inilah seni menikah muda, apalagi kalau suami kita juga berusia tidak jauh dari kita dan belum memiliki pekerjaan yang tetap. Untuk belum dikaruniai momongan juga jangan sedih, kami juga sedang berada dititik ini juga hehehe (apasih ganyambung banget hehehe). Manfaatkan waktu kalian untuk melakukan pencapaian terbaik dalam hidup, inshaaAllah kalau sudah waktunya, anak akan datang seiring dengan mulai stabilnya kehidupan kita.
So, dengan bismillah kami mulai perjalanan hidup ini, inshaaAllah kehidupan yang lebih baik menanti didepan kami.
Aku menikahimu karena aku percaya kalau kamu bisa :)

image
pict by Addienullah 

Padeglang, 25 Agustus 2017

JANGAN NIKAH SAMA ORANG TURKI..KALAU.. (BAGIAN 1)



Inhale, exhale...
Akhirnya bisa kembali ke dunia literasi setelah sekian lama tidak aktif. Rindu? Ow sudah pasti, Cuma ya sayangnya saya terlalu sibuk dengan kehidupan dunia lain (astagfirullah ukhti, main ke dunia mana??). Bukan, bukan dunia jin..tapi dunia kemalasan (mueheheheh :p). bercanda ketang, eh tapi ada sih malesnya. Sebenarnya (yang lain) saya sedang fokus ke dunia vlog dan hobi (melukis cat air), jadi kegiatan menulis saya ’’agak dikesampingkan’’. Saya tidak benar-benar vacum menulis sebenarnya, belakangan ini saya lebih aktif menuliskan segala bentuk uneg-uneg dan inspirasi saya di instagram. Saya sering membuka diskusi terbuka perihal pernikahan campur, berasa psikolog pernikahan :D

Dunia pernikahan Indonesia-Turki memang lagi rame dan jadi trend akhir-akhir ini. Keinginan saya untuk menjadi pasangan kawin campur yang ’’Ekslusif dan unik“  pupus sudah wkwkkwk (lah siape gue malihhhh). Kalau dulu, pasangan campur Indonesia-Turki  masih kebilang jarang (ya walaupun sebenernya udah lumayan banyak). Cuma ya rata-rata orang Indonesia banyaknya nikah sama WN Arab, US atau Eropa gitu, kalau sama orang Turki kebilangnya masih jarang.

Fenomena ini gak jauh karena pesatnya perkembangan teknologi dan ramainya variasi sosial media. Ow, salah satunya youtube. Zaman dimana apapun bisa direkam, masuk youtube dan jadi uang (aku cinta uang wkwkwk). Nah, mulai banyak juga nih pasangan campur Indonesia Turki  yang berlomba-lomba membuat konten youtube (baik yang sudah menikah maupun yang masih pacaran). Yaa sebenernya sah-sah aja sih, Cuma kadang mereka kurang bisa ngerem apa yang pantas dibagikan dan apa yang tidak. Duh, mungkin saya aja yang pikirannya terlalu kolot kali ya. Apa yang saya rasa engga pantas ya bisa jadi pantas untuk orang lain. Karena ya balik lagi, standar tiap orang berbeda. 
Hal yang mereka gak sadari, ada sebuah ’’anomali’’ yang mereka ciptakan dari kegiatan vlogging tersebut. Semakin banyak orang Indonesia yang akhirnya punya keinginan bersuamikan orang Turki, mereka ikut ’’memburu’’ lelaki Turki dihampir semua aplikasi dating dan sosial media. Menikah dengan lelaki Turki menjadi goal bagi sebagian perempuan Indonesia. Penggambaran lelaki Turki yang nyaris sempurna nyatanya membuat mereka gelap mata. Saya harus menikah dengan lelaki Turki, bagaimanapun caranya.  

Sebenarnya, saya dan suami ya seneng-seneng aja sih kalau akhirnya banyak perempuan Indonesia yang menikah dengan orang Turki. Jadi nanti akan banyak teman seperjuangan di tanah rantau. Tapi disisi lain saya juga dengar banyak kasus gak ngenakin dari pernikahan campur Indonesia-Turki. Gak ngerti deh, saya kayak berasa prikolog pernikahan. Beberapa teman saya percaya membagikan kisah pernikahan ‘kurang’ beruntung mereka untuk saya bagikan ke teman-teman sekalian. Bahwa, pernikahan yang gagal itu ada. Terhitung ada lebih dari 5 teman seperjuangan saya yang akhirnya berkasus dengan suaminya :”) Life :”) Nasip :”)

Disini, saya Cuma mau ngebagiin opini pribadi tentang menikah dengan orang Turki. Judulnya serem sih, saya ngambil judul “JANGAN NIKAH SAMA ORANG TURKI” biar kalian baca gitu. Karena kan jadi kepo, ‘loh, ada apa emang sama orang Turki?’ begindang. Bikin kepo aja dulu, kalau udah kepo kann akhirnya ada usaha pengen nyari tau. Nah, sebenernya tulisan ini juga hasil adaptasi konten opini youtube kita. Sengaja dibikin 2 bagian biar samaan kayak youtube kita muehehehe.

Kita Cuma negesin aja, kalau ini murni pendapat sendiri dan beberapa teman seperjuangan yang mengamini apa yang saya rasakan tentang fenomena ‘‘ngebetnya cewek Indonesia bersuamikan cowok Turki“. Kalau misalnya ada yang mau nambahin, bisa komentar dibawah yak.  Wadaw, intronya panjang bener..efek lama kagak nulis ya beginilah, terlalu banyak kata yang ingin diungkapkan keluar :D

Bahique, kita mulai aja ya (lah dari tadi kagak mulai-mulai -_-). Ges, kita mau ngasih tau kalian buat gak nikah sama orang Turki kalau kalian punya alasan-asalan ini...

  • JANGAN NIKAH SAMA ORANG TURKI, KALAU kalian Cuma mau ikut-ikutan orang lain. Misalnya, kalian liat vlogger-vlogger campuran Indo-Turki yang keliatannya bahagia banget gitu idupnya, terus kalian kepengen juga kayak mereka. Nikah itu bukan ‘coba-coba’ gesss. Kalau di agama islam, nikah itu ibadah paling panjang karena dilakukan seumur hidup. Kehidupan orang lain itu beda-beda, belum tentu ketika kalian nikah sama orang Turki, kehidupan kalian langsung plek sama kayak ‘orang-orang’. Saking kepengennya nikah sama orang Turki, jadi membabi buta nyarinya. Ya gak peduli juga backround si calon gimana, asalkan Turki dan ganteng. Yakali nikah Cuma ngandelin ganteng doang.

Hey Marimar, cari calon suami itu kudu teliti. Kalian jangan asal comot calon suami dari medsos. Jangan juga kebuai sama muka gantengnya. Pokoknya jangan gampang celamitan sama idup orang. Belum tentu kehidupan orang lain cocok buat kita. Begitulah intinya.. Lagian, gak semua orang Turki itu baik. Ya untung kalau kalian nemunya yang baik, kalau yang engga gimana ? terus terlanjur nikah, pas mau keluar dari toxic relationship kalian gabisa. Kalau udah gitu, yang rugi siapa ? kalian juga akhirnya. Panutan kalian bakal bantuin kalian gak kalau kalian ada di posisi itu ? boro-boro, iris kuping gajah kalau mereka bantuin kalian.

Janganlah terlalu terobsesi sama cowok Turki. Daripada begitu, mendingan kalian tingkatkan kualitas diri kalian. inshaAllah jodoh juga ngikutin kalian nantinya. Apa ya, ungkapan jodoh itu cerminan diri sih bener adanya. Jadi kalau mau dapat jodoh yang kualitas dirinya warbyaza, ya kalian juga warbyaza. Kalau kualitas dirinya kawe-kawe club, ya calonnya juga gak jauh dari kawe-kawe club jugak.

  • JANGAN NIKAH SAMA ORANG TURKI, KALAU kalian modal nekad doang. Contohnya, kalian mau aja diajak nikah sama cowok Turki yang baru kalian kenal itungan hari. Ebuset, langsung tiba-tiba yakin kalau itu jodoh kalian? Dalam hitungan hari loh. Ya sebenernya saya percaya aja sama cinta pada pandangan pertama, tapi gak gitu juga sih.  Ya boleh aja optimis kalau si cowok jadi jodoh kalian, tapi kalian kudu realistis juga. Mereka berdua kudu imbang, jangan kegedean optimisnya, takutnya kalian dikhianati rasa optimis kalian sendiri..sakit loh. Kzl.
  • JANGAN NIKAH SAMA ORANG TURKI, KALAU ekspektasi kalian tentang cowok Turki tinggi banget. Bukannya apa-apa, takutnya kalau gak sesuai ya kalian sendiri yang sakit. Jangan terlalu terbuai sama deskripsi super sempurna tentang cowok Turki yang kalian baca atau lihat. Sebagian deskripsi manisnya ya ada yang bener, tapi ada juga yang engga.
  • JANGAN NIKAH SAMA ORANG TURKI, KALAU kalian cuma mau naikin gengsi doang. Saya sedih loh. Jadi kemarin-kemarin sempet ada akun instagram serba-serbi Turki yang angkat soal kisah cinta Indo-Turki. Nah, mereka buat diskusi terbuka gitu soal ”kenapa cewek Indonesia tertarik sama cowok Turki?‘‘, nah ada loh satu orang yang bilang kalau nikah sama WNA itu kayak semacam naikin derajat diri gitu, gengsi jadi naik kalau punya suami WNA (termasuk WNA Turki). Sebagai perempuan Indonesia, kok rasanya kayak diinjek-injek aja inih hati saya. Seakan derajat diri perempuan Indonesia segitu rendahnya sampe harus nikah sama WNA buat naikinnya. Please ya cewek-cewek, kalau mau cari alasan nikah sama WNA coba dibikin rada elegan dikit gitu jawabannya.
  • JANGAN NIKAH SAMA ORANG TURKI, KALAU kalian Cuma pengen keluar dari Indonesia aja. Jadi kayak manfaatin si cowok Turki buat bawa kalian keluar dari Indonesia. Percayalah, kadang Indonesia bisa jauh lebih aman dan menyenangkan dibanding Turki. Jadi alasan nikah sama WNA Cuma kepengen dapet jalan keluar dari Indonesia rasanya masih kurang elegan sih..

Yaaa, begitulah gess. Ini masih ada terusannya yak. Cuma karena ngikutin vlog aja jadi dibikin 5 alasan dulu. Nanti lanjut yaa hahaha, udah rada stuck juga nulis yang ini. Kepengen nulis hal lain juga soalnya, niatnya dalam satu hari ini saya update dua tulisan. Mumpung masih seger, jadi kudu cepet-cepet dituangkan dalam tulisan. Nanti cuap-cuap kesimpulannya pas dibagian 2 aja ya ges, biar jos gandos hehehe. Takutnya eykeu terlalu banyak cuap sana dan cuap sini ni di blog :D
Selamat menimbang-nimbang..
İyi Günler!
Mrs. Kursun.

Sabtu, 21 Juli 2018

Hal-hal Yang Mungkin Baru Kamu Tahu Soal Turki.


Selamat bulan Juni, Selamat menanti hari kemenangan untuk umat islam di dunia ini :)
Apakah “kemenangan” tersebut benar-benar sebuah kemenangan untuk seluruh umat islam? Ataukah hanya sebuah slogan formalitas untuk ucapan hari raya semata?

Juni, bulan penentuan di Turki. Bulan dimana “demokrasi” (katanya) akan bergema diseantero Turki. Kurang dari dua minggu lagi Turki akan mengadakan pemilihan presiden, seorang pemimpin baru (atau dengan wajah lama) yang akan memimpin Turki untuk waktu yang sangat sangat lama (bahkan mungkin tak terhingga ya?).

Sejak 2 tahun lalu Turki mengalami banyak perubahan besar, terutama dari segi politik. Ah, sebenarnya males sih bahas-bahas politik gini. Tapi kok ya ada gemes-gemesnya gitu loh kalo abis baca berita dan denger cerita dari temen “yang kena dampak” dari kebijakan politik pemerintah.

Kayak yang saya bilang di paragraf sebelumnya, dalam waktu 2 tahun belakangan, Turki mengalami banyak perubahan. Beberapa diantaranya adalah kudeta (gak jadi), disambung dengan pembersihan besar-besaran terhadap orang-orang yang dianggap pihak oposisi oleh pemerintah, terus lanjut ke referendum, lanjut ke jatuhnya nilai tukar lira ke seluruh mata uang dunia (terutama dollar), dan sekarang adalah dipercepatnya pemilu yang harusnya diselenggarakan November tahun depan. Ni negara super dagelan banget sih menurut saya. Semuanya mesti banget diburu-buru.

Seperti yang kita tau, Turki merupakan salah satu negara yang banyak menampung pengungsi asal Suriah. Tapi taukah kalian semua bahwa sekarang banyak juga masyarakat Turki yang pergi mengungsi ke negara lain karena permasalahan politik yang menjerat mereka? Sebuah masalah yang seharusnya gak pernah mereka dapatkan karena sejatinya mereka adalah orang-orang innocent yang akhirnya harus berurusan dengan masalah politik karena mandat satu orang.

Bicara soal pengungsi dari Turki ke negara lain, saya punya banyak cerita kelu soal mereka. Cerita yang saya dapat dari orang-orang terdekat saya yang saya tahu betul bagaimana orangnya. Semoga cerita ini jadi gambaran buat kalian semua bahwa Turki engga sesempurna yang kalian bayangkan, terlalu banyak pelanggaran hak asasi manusia disana. Sampe mikir deh, emang masih ada ya hak asasi di negara Turki?

Engga lama ini ada salah satu temen kami yang ngehubungin kami dari Jerman. Ternyata dia pergi ngungsi dari Turki sejak setahun lalu dan baru menetap di Jerman (tanpa kejelasan). Dia cerita panjang lebar soal pengalamannya pergi ngungsi dari Turki ke Jerman, dan jujur aja saya sedih banget pas denger cerita perjuangan dia sampe ke Jerman.

Alkisah, teman kita merupakan salah seorang guru dari sekolah yang berafiliasi dengan pihak oposisi di Turki. Pemerintah Turki seakan alergi sama mereka-mereka yang kerja atau punya hubungan (bahkan secuil) dengan pihak oposisi. Jangan harap kalian bisa hidup tenang.

Sebenernya temen kami ini udah resign dari sekolah itu sebelum mencuatnya kasus kudeta di Turki. Sayangnya memang dia lagi engga beruntung. Dia jadi kena imbas dari kebijakan pemerintah, namanya terlanjur kotor karena pernah kerja di sekolah tersebut. Sulit buat dia buat dapet pekerjaan lagi karena sekalinya kita dapet tanda hitam, kita bakal sulit berkembang. Temen kita pergi ke mahkamah buat minta haknya untuk kemudahan mencari pekerjaan, tapi ternyata pihak mahkamah bilang bahwa dia engga bisa dapet haknya karena dia pernah kerja di sekolah itu dan sewaktu-waktu dia bisa dipenjara. Gak lama setelah itu adik kandungnya ditangkap polisi dan dipenjara.

Beberapa bulan kemudian orang-orang terdekat dia yang lain juga ikut masuk penjara dan dia mulai mikir “mungkin waktu saya sebentar lagi”. Akhirnya dia coba buat pergi ke negara lain, tapi engga ada satupun negara yang mau kasih dia visa. Semua negara nolak pengajuan visanya, kayak Kanada dan Amerika. Dia gak kehabisan akal, akhirnya dia mikir buat pergi ke Albania. Sebelum ke Albania, dia mulangin istri dan anak-anaknya dulu ke negara asal istrinya. Setelah itu dia pergi ke Albania menggunakan pesawat, waktu itu belum ada masalah pengambilan passpor buat dia, jadi kepergian ke Albania lancar-lancar saja.

Tujuan utamanya adalah ke Jerman, karena Jerman merupakan salah satu negara yang mau nampung korban dari permasalahan politik di Turki. Tapi, buat sampe ke Jerman itu bukan perkara yang mudah. Petualangan dia dimulai disini.

Dari Albania, dia pergi ke Yunani. Di Yunani semua serba sulit karena pemerintah Yunani gak mau bantu pengungsi Turki bikin visa schengen. Dia tinggal cukup lama di Yunani sampe akhirnya dia nekat buat pergi diem-diem secara ilegal. Entah gimana caranya, kayaknya dia lebih banyak pergi jalan kaki dari Yunani ke Jerman. Dia cerita gimana dia harus masuk hutan dan naik gunung buat sampe Jerman, tanpa orang-orang tersayang di sisi :”( kebayang ga sih gengs :”( baper abis ni saya :”(
Akhirnya setelah beberapa minggu dia tiba juga di Jerman, dan masuk camp pengungsian. Orang baik itu harus dapet perlakuan engga manusiawi dari pemerintahnya sampe harus ngungsi ke negara orang :”(

Apa setelah masuk camp kisah dia berakhir bahagia? Engga sama sekali! Hidup di camp pengungsian bukan hal yang enak! Dia harus siap dengan fasilitas yang sangat terbatas, kamar mandi hanya tersedia satu saja untuk seluruh pengungsi di camp tersebut. Camp-nya kotor dan penuh sama tikus. Dia nunggu kejelasan buat kursus bahasa Jerman gratis dari pemerintah Jerman. Tapi selama 6 bulan disana dia gak dapet kejelasan apa-apa. Oyah, sebenernya gak semua camp pengungsian di Jerman seburuk itu, setiap provinsi di Jerman punya suasana dan fasilitas camp yang berbeda. Pemerintah Jerman juga ngasih kursus bahasa Jerman gratis buat para pengungsi yang datang ke Jerman buat bekal survive disana.

Camp dia terletak di desa terpencil. Supermarket terdekat dengan camp pengungsian itu jaraknya sekitar 3 km, jadi pas winter dia mesti jalan kaki sekitar 3 km cuma buat beli roti! Akhirnya dia mutusin buat keluar dari camp pengungsian. Qadarullah, dia ketemu orang baik yang mau kasih dia penginapan gratis. Dia cerita kalau dia gabisa fokus sama sekali selama di Jerman karena hati dan pikirannya terus ke anak dan istri. Anak-anaknya masih kecil-kecil :”(

So, apa yang bisa kalian simpulkan dari cerita diatas? Ini bukan cerita fiktif yang saya karang sendiri. Cerita ini murni saya dapatkan dari seorang pengungsi Turki di Jerman yang juga masih orang deket saya dan suami. Kalian bisa baca gimana buruknya sistem politik di Turki. Makanya saya sendiri sih engga fanatik sama politik di Turki karena udah tau busuknya permainan politik di negara itu. Yang kena imbasnya itu ya orang-orang yang gak bersalah. Mungkin Turki bisa dibilang sebagai negara yang paling banyak melakukan pelanggaran hak asasi manusia saat ini (mungkin loh ya). Mengingat banyaknya pengangguran disana dan sulitnya mereka dapet kerjaan. Penyedia kerja juga gak mau kasih kerja ke mereka karena mereka-mereka itu udah dapet tanda hitam dari pemerintah dan tanda itu sulit banget hilangnya. Belum lagi orang-orang yang kurang beruntung bisa masuk penjara dan jumlah mereka terus bertambah tiap harinya sampe pemerintah Turki menganggarkan dana untuk pembuatan penjara baru karena saking banyaknya orang yang ditangkep.

Jadi begitulah, ini cuma satu cerita dari puluhan cerita sedih yang saya denger dari temen-temen saya. Saya cuma pengen kalian buka mata sih sama fakta-fakta ini, bahwa Turki engga sesempurna yang kalian bayangkan. Kalau kalian bilang ini cuma akal-akalan segelintir orang buat ngejelek-jelekin pemerintahan Turki, kalian salah. Apa kalian fikir orang-orang yang dipenjara itu orang kafir? Engga! Mereka muslim! Jadi bijaklah dalam berfikir, bahwa apa yang kalian baca di media belum tentu yang sebenarnya. Kenyataan itu kadang lebih sakit jendral!
Semoga Allah cepat turun tangan untuk kasus ini.

*Note 1: Tulisan ini dibuat bulan kemarin tapi saya baru sempet update wkwkwk monmaap kekawan :D
*Note 2: Akhirnya si bapak menang lagi, tapi tetep gabisa lebih dari 53% yang artinya setengah masyarakat Turki engga terlalu menginginkan dia :)
Yaaaa, yang terbaik aja deh buat Turki :)

Selasa, 29 Mei 2018

Engga Semua Lelaki Turki itu Setia..


Hey gengs! Apa kabar :D
Langsung yes update dua tulisan dalam satu hari wkwkwkw (lagi napsu :p)

Been long time engga update tulisan di blog ini, monmaap..banyak komenan yang belum dibaca dan dibales, monmaap ya gengs :(

Let’s we talk about Turkey again, everything about Turkey.

Dan yang gak pernah bosen dibahas itu adalah..
Lelaki Turki :)

Lelaki Turki, agaknya semakin “bersinar” yak akhir-akhir ini. Pengaruh drama Turki di Indonesia nyatanya jadi anomali luar biasa untuk menambah “Keobsesian” para perempuan di wkwkwkLand untuk mendapatkan pinangan dari pria Turki. Sosok gagah dan romantis dari lelaki Turki faktanya menjadi daya pikat tersendiri untuk perempuan Indonesia. Persamaan keyakinan dengan penganut agama terbesar di Indonesiapun menjadi nilai plus lain.

Mereka katanya terkenal romantis dan setia. Dulu gapernah denger berita jelek soal KDRT atau perselingkuhan lelaki Turki juga sih. Di grup perempuan Indonesia yang nikah sama WNT juga jarang baca kabar jelek. Sampe akhirnya kabar-kabar buruk itu berdatangan, dan kayak semacem virus gitu. Kabar jelek yang serupa berdatangan lagi dan lagi.

Dari situ saya mulai mengubah pemikiran, bahwa tak semua lelaki Turki itu setia. Kabar paling sering saya dengar sekarang adalah kasus perselingkuhan antara  pria Turki dengan wanita lain, entah dengan perempuan Turki, ataupun perempuan Indonesia. Nyatanya seorang lelaki Turki yang berpendidikan tinggipun belum tentu memiliki watak yang baik. Dulu selalu mikir kalau tingkat pendidikan seseorang berbanding lurus dengan “kecerdasan attitudenya”. Yap, akhirnya hal tersebut kembali lagi pada pribadi masing-masing.

Buat kalian yang sekarang sedang menjalin hubungan dengan pria Turki, kalian harus selalu waspada. Manusia itu dinamis. Hari ini begini besok belum tentu begini. Manusia itu kadang susah banget dipegang omongannya, bisa kasih janji janji manis, tapi akhirnya bisa ngingkarin juga.

Beberapa bulan lalu, saya dan suami berjibaku degan kasus teman kami yang ingin cerai dengan suaminya. Permasalannya terlalu banyak, salah satunya adalah si suami berselingkuh dengan perempuan lain. Tetapi pada akirnya teman kami memutuskan kembali dengan suaminya demi anak dengan kepercayaan yang tidak lagi 100%. Saya pribadi bukan orang yang bisa menerima pengkhianatan.

Ada seorang kawan yang bilang bahwa lelaki selingkuh itu biasa. Sejujurnya saya kurang setuju dengan pendapat tersebut, suami sayapun sama tidak setujunya dengan saya. Kalau lelaki selingkuh tandanya ya emang ada yang salah dengan lelakinya (menurut versi suami). Perkataan teman saya Semacam analogi Raditya dikka gitu. Kalo pengikut Radiya Dikka pasti familiar dengan kalimat “lelaki itu cuma ada 2 jenis, kalo gak brengsek ya dia homo hehehe”. Suami saya gak mau dimasukin kategori itu dan kategori “lelaki selingkuh itu biasa”. Nyatanya gak ada yang normal dari sebuah perselingkuhan, kita gak bisa "mewajarkan" sebuah perselingkuhan :)

Sebenernya suami termasuk orang yang super ilfil kalo denger ada kasus perempuan Indonesia yang diselingkuhin sama suami Turki. Jahat banget sih, udah bawa anak orang ke negara antah berantah..lah masih diselingkuhin juga. Pas si istri minta cerai, anceman suami gak jauh dari hak asuh anak “anak sama gue, lo balik ke Indonesia”. Selingkuh ke cewek lain karena katanya si istri udah gak cantik lagi, tapi istri mau perawatan ke salon malah gak dibolehin. Lah situ waras apa engga dah? Istri kusem dll ya karena situ gak mau modalin istrinya buat perawatan, terus situ malah nyari solusi dengan pacaran sama cewe lain yang lebih seger dari istri situ. Buat saya dia adalah the most “bego” man in this universe.

Stop sama pandangan kalo semua cowo Turki itu bisa dipegang omongannya, totally pret bangetlah. Banyak juga tuh yang gak bener. Jadi jangan langsung klepek-klepek sama rayuan gombal cowo Turki yes. Emang kadang mereka demen bikin GR.

Ada yang bilang selingkuh itu mungkin karena gen juga, hmmm..
Gak tau sih kalo ini, penelitian ilmiahnya belom ada wkwkwkw tapi kebetulan ya yang selingkuh itu punya riwayat keluarga yang pernah selingkuh juga.

Kalo ditanya, takut ga kalo suami tiba-tiba selingkuh? Ya takut itu ada. Tapi so far sih saya ngontrol pergaulan suami. Sebisa mungkin kita juga berkutat di circle sehat, pilih teman bergaul yang bisa bawa hal positif sama hidup kita juga. Dia bukan tipe lelaki yang gasuka medsosnya dibuka istri dan bukan tipe cowo yang genit sama cewe sih. Jadi handphone kami masing-masing ya log in medsos satu sama lain. Jadi suami ngobrol sama siapa aja notifikasinya selalu masuk ke handphone saya. Pun dengan saya. Lagian suami saya super super sibuk, main medsos aja jarang (liat aja di instagramnya dia, jarang update foto hehhe)


Nah jadi gitu deh, pokonya sekarang buanglah anggapan kalau semua cowo Turki itu setia, nyatanya mereka bisa selingkuh..nyatanya mereka banyak juga yang berbagi hati. Semua kembali lagi sama orangnya :) Tapi jangan juga kasih standar ganda kalo lelaki selingkuh itu biasa, kalo begitu ya kisah Ainun Habibie engga pernah ada :)

Fisik dan nasionalisty itu Cuma cover, dalemannya tergantung pribadi masing-masing juga :)